2.750 ton Amonium Nitrat Meledak di Lebanon

oleh -
Kepulan asap yang diakibatkan ledakan amonium nitrat (foto: facebook)

Lebanon, Posrakyat.com – Ledakan yang cukup besar terjadi di Beirut, Lebanon pada Selasa (04/8/2020) menewaskan sekurangnya 78 orang dan 4.000 lebih luka –luka.

Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan bahwa ada 2.750 ton amonium nitrat disimpan di gudang selama 6 tahun tanpa adanya pengawasan keamanan.

Amonium nitrat adalah zat yang sangat mudah meledak ketika bersentuhan dengan api. Umumnya, kegunaan zat ini adalah untuk pupuk pertanian dan bahan peledak. Dalam penyimpanannya, ada sejumlah aturan ketat yang diberlakukan untuk menghindari ledakan yang tersebut.

Saat ini, dilansir BBC.com, rumah sakit kewalahan menangani banyaknya pasien yang dilarikan ke unit gawat darurat. Salah satu rumah sakit mendapat 200 hingga 300 pasien baru untuk kasus ledakan ini.

Tersebar video yang memperlihatkan betapa mengerikannya kondisi Beirut saat ini. Asap mengepul dengan tebal, mobil-mobil dan banguann rusak parah, orang orang berlumuran darah, karena ledakan yang sangat dahsyat tersebut.

Salah satu warga yang dimintai keterangan mengatakan bahwa ledakan yang terjadi biasanya hanya meliputi satu area saja, namun yang kali ini berdampak ke seluruh Beirut bahkan diwilayah sekitarnya.

“Sebenarnya kami terkejut karena biasanya ketika ledakan terjadi, hanya satu area yang mengalami kejadian seperti itu. Namun kali ini semua Beirut, bahkan wilayah-wilayah di luar Beirut,” ungkap Hadi Nasrallah, penduduk Beirut.

Hassan Diab mengumumkan bahwa hari ini (Rabu,5/8/2020) dan dua hari berikutnya adalah hari berkabung nasional.

Presiden Michael Aoun dalam pertemuan Dewan Pertahanan Nasional menambahkan bahwa dua minggu ini akan dinyatakan sebagai kondisi darurat nasional. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah akan menurunkan dana darurat sebesar 100 Milyar Lira (Rp972,1 M).

Parahnya, saat ini kejadian ini terjadi, Beirut sedang mengalami krisis ekonomi yang memicu ketegangan politik. (Sumber : BBC.com)

Editor : RE

loading...