Aniendya Jabarkan Tantangan Media di HPN 2018

oleh -
Anindya Bakrie, mengenakan batik berwarna putih (kiri) saat sesi foto bersama para pembicara Konfensi Nasional Media Massa di Hotel Inna Muara. Kamis 08 Februari 2018

Padang, POSRrakyat.com – Menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-32 tahun 2018 di Kota Padang. Presiden Direktur VIVA Media Group, Anindya Novyan Bakrie mengatakan saat ini media massa nasional mengalami deflasi yang cukup besar.

Penurunan ini dipengaruhi dua faktor penekan, seperti tekanan globalisasi yang didominasi dari sisi pengiklan, dan tekanan disrupsi teknologi melalui perubahan platform digital.

“Sebagai gambaran deflasi yang terjadi karena globalisasi dipimpin oleh media agency yang bersatu. Pendapatan media di seluruh Indonesia per tahunnya itu kira-kira Rp15 triliun atau US$1,2 miliar. Nah, salah satu media agency terbesar di dunia itu kira-kira pendapatannya setahun US$20 miliar (per tahun),” kata Anin di Padang, Kamis 8 Februari 2018.

Anin menjelaskan, media 10 tahun lalu merupakan bisnis seksi karena menyentu konsumsi domestic Indonesia. Dan juga di katakan media kala itu akan berkembang karena ekonomi pada saat itu stabil .

Demografinya bagus, 80 persennya dihuni kelas menengah dan 2/3-nya dihuni generasi milenial atau generasi Z yang di bawahnya.

Tapi, jika dilihat Adex (belanja iklan) per PDB-nya, Indonesia masih tertinggal dengan negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Itu menjadi tanda tanya. Seolah-olah orang mengatakan ‘wah ini artinya kesempatannya luar biasa’. Tapi ternyata karena ada tekanan itu tadi, membuat pengiklan itu memiliki kekuatan yang lebih besar dari pemilik media,” tutur Anin

Tekanan selanjutnya, terang Anin, adalah disrupsi teknologi yang ditandai masuknya platform baru, di mana pemain-pemain asing masuk dan bersaing. Karena, menurut Anin, tidak sedikit pemain-pemain yang memiliki platform teknologi beralih menjadi pemain media.

Mereka juga melakukan konsolidasi dari sisi aplikasi atau platform. Yang tadinya hanya berupa media sosial, berubah menjadi chat Apps, search engine, dan video streaming. “Tekanan itu yang menjadi deflasi di industri ini akan terus terjadi, dan ini tak bisa dielakkan,” tutur Anin.

Kendati banyak tekanan yang menghimpit media nasional saat ini, Anin menyatakan bukan berarti media nasional ini harus menyerah. Justru munculnya tantangan ini membuat semua pemain yang ada di dalamnya mencari jalan keluar agar bisnis ini ‘sustainable’.

“Media ke depan harus berpikir lebih banyak, mendengarkan lebih baik dari sisi pelanggan kita dan mencoba melayani secara 360 derajat,” ujar Anin. ***

 

 

 

loading...