PosRakyat -Bulan puasa Ramadan tiba, peca pun muncul. Itulah menu buka puasa paling favorit di Kota Donggala. Peca, sejenis bubur santan. Hampir semua penduduk menyajikan menu itu setiap buka puasa, meskipun tidak rutin tiap hari.
Tetapi bagi warga yang ingin menikmati peca setiap buka datang saja ke Masjid Nurul Imam Maleni. Sejak hari pertama puasa hingga terakhir, peca jadi menu utama. Bubur yang bisa dicampur sambal saat dimakan itu dimasak di kediaman keluarga Pak Sabaruddin (63 tahun), selaku penanggungjawab. Setelah masak jadi langsung dibawa ke masjid untuk ditakar sesuai tempat yang disediakan.
Baca Juga: Ridha Saleh Lepas Puluhan Dai dan Guru Ngaji di Sejumlah Masjid di Kota Palu
Baca Juga: Kapolri Mutasi 7 Kapolda, Ini Daftarnya
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Gadis di Lenju Berhasil Diungkap Polisi, Diduga Satu Pelakunya Oknum TNI AL
Bagi warga Kelurahan Maleni tradisi buka puasa dengan peca sudah berlangsung puluhan tahun dari generasi ke generasi. Begitupun di Masjid Raya Donggala, Kelurahan Boya, menu buka puasa itu sudah beberapa generasi yang memasak.
“Yang pasti bagi jamaah Masjid Raya Donggala itu, bulan Ramadan identik dengan peca. Begitu pula sebaliknya memasuki Ramada, pasti ada peca khas Donggala,”kata seorang jamaah.
Peca, sebetulnya adalah bubur santan biasa. Dimasak secara sederhana memakai tungku api di dalam belanga besar. Terbuat dari beras berkualitas terbaik dicampur santan kelapa pilihan yang dicukur kulit arinya, kemudian dicampur garam secukupnya.
Beras yang sudah dibersihkan kemudian dimasak selama beberapa jam dan terus diaduk dengan saji jangan sampai bagian bawah hangus. Kalau hangus bisa menimbulkan rasa yang beda dengan lazimnya.
Soal kapan dimulai tradisi masak peca, tidak diketahui pasti. Namun menurut Abdul Rauf Thalib (73 tahun), diperkirakan tradisi itu sudah ada jauh sebelum peristiwa Permesta tahun 1958. Sebab menurutnya, sejak masih kecil, pembuatan peca di Masjid Raya Donggala sudah ada. Dulu, dibuat oleh pengurus masjid yang biasa disebut Pua Katte dan Pua Doja.
Cuma saja sejak beberapa tahun terakhir ini, peca tidak lagi dibuat di Masjid Raya, melainkan di sebuah tempat masih kerabat mantan pegawai sarah masjid. Setiap sore sekitar 16.30 menu itu dijemput untuk dibawa ke masjid, selanjutnya ditakar ke mangkok yang sudah tersedia.***
(JAMRIN AB)




