DISOERIENTASI KEPEMIMPINAN DIUSIA DONGGALA YANG KE-67

oleh -
Wakil ketua II DPRD Donggala, Abd Rasyid. Ist

Oleh : Abd. Rasyid


Jelang peringatan hari jadi Kabupaten Donggala yang ke-67 salah seorang wartawan bertanya : “Prestasi apa yang dapat kami tulis tentang Donggala diusianya yang ke-67?”. Sesaat suasana menjadi sunyi dan hanya senyum yang dapat diberikan menanggapi pertanyaan tersebut. Pertanyaan khas insan pers pasti selalu sederhana namun sulit untuk menguraikan hanya dengan sekali jawab.

Mengapa menjadi sulit? Karena saat ini belum ada jawaban simple dan sederhana untuk menunjukkan prestasi Kabupaten Donggala di usianya yang ke-67. Mungkin di tahun-tahun sebelumnya dengan bangga Pemerintah daerah masih mempersembahkan salah satu raihan Opini BPK-RI berturut yaitu WTP.

Namun saat ini seolah semua sirna dan tidak ada yang bisa dibanggakan diusia Kabupaten Donggala yang ke-67. Suasana perayaan terlihat kering dan kaku, entah mengapa kehadiran dalam perayaan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah terkesan hanya memenuhi “tugas rutinitas tahunan” belaka. Tak ada narasi segar yang didengungkan oleh sang nahkoda Donggala yang menggelegar. Seharusnya momentum peringatan hari jadi kabupaten adalah meomentum menggelorakan ide sang nahkoda yang mencerahkan dan bisa menggerakkan seluruh komponen daerah.

Mengapa hal ini terjadi? Apakah kepemimpinan Donggala diusia ke-67 mengalami disorientasi? Atau memang saat ini Donggala sedang menjalankan pemerintahan berbasis “auto-pilot”? Pertanyaan ini mungkin terlihat lucu dan tidak tepat, namun marilah coba menelusuri jejak kepemimpinan berbasis dokumen perencanaan. Mengapa demikian? Karena hanya melalui dokumen perencanaanlah nanti bisa menilai dan menuduh bahwa di usia ke-67 Donggala dibagian mana yang pantas untuk dibanggakan dan diceritakan.

Di usia ke-67 Kabupaten Donggala ini (tahun 2019), maka dokumen yang bisa dipakai untuk menjadi alat ukur refleksi dan menatap masa depan daerah adalah RPJMD 2019-2023, mengapa? Karena di dokumen resmi inilah tercantum segala permasalahan serta strategi dan arah kebijakan yang akan ditempuh oleh pemerintah daerah selama 5 tahun. Hal ini menjadi penting karena dokumen perencanaan inilah yang menjadi parameter atau alat pandu sehingga tidak membuat kepemimpinan kehilangan arah (disorientasi).

Namun yang perlu diingat pula bahwa dokumen RPJMD yang setiap lima tahun berganti merupakan penjabaran periodik dari RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) 2005-2025). Sehingga jika ini dipakai sebagai panduan bersama maka pertanyaan tentang prestasi apa yang bisa dibanggakan saat usia Kabupaten Donggala yang ke-67? Maka jawabanya adalah bagian mana yang ada dalam dokumen perencanaan tersebut yang telah terlaksana dan tertunaikan.

Dalam RPJPD Kabupaten Donggala (2005-2025) cita Kabupaten yang ingin di wujudkan adalah “KABUPATEN DONGGALA YANG MANDIRI, SEJAHTERA DAN DAMAI”. Tiga kata kunci ideal yang ingin dicapai kurun waktu 20 tahun ini (2005-2025) yaitu Mandiri, Sejahtera dan Damai. Dan saat ini di usia ke-67 Tahun Kabupaten Donggala (tahun 2019), Donggala sudah berada pada fase terakhir dari perwujudan cita ideal tersebut. Sehingga seharusnya visi kepemimpinan yang tertuang dalam RPJMD 2019-2023 adalah finising tuch atau sentuhan akhir dari pemenuhan cita ideal (RPJPD) tersebut.

Mari sejenak menengok ke dalam RPJMD 2019-2023, disana tertuang jelas bahwa kurun waktu periode 2013-2018 banyak hal yang tidak bisa diselesaikan atau tidak memenuhi target dari isu strategis yang terjadi dikurun waktu tersebut (2013-2018). Diantaranya yaitu : Kenaikan Angka Kemiskinan dari 49,6 ribu jiwa menjadi 54,44 ribu jiwa, Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan bahwa kesenjangan antar sesama penduduk miskin atau rumah tangga miskin selama periode tersebut (2013-2018) semakin melebar, belum lagi terkait pertanian dan nelayan, reformasi bikrokrasi, infrastruktur, iklim investasi dan pengelolaan kebencanaan.

Dengan melihat sepintas hal ini, seyogyanya pada peringatan hari jadi Kabupaten Donggala yang ke-67 sang Pemimpin berteriak dengan lantang bahwa target capaian periode ini (2019-2024) adalah :

1. Reformasi Birokrasi dengan melakukan ajuan revisi perda Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sehingga OPD yang ada nantinya adalah bisa lebih ramping/sedikit sehingga harapanya belanja pada oprasional OPD berkurang dan bisa dialihkan pada program kerja nyata yang bisa mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian.

2. Mewujudkan suasana adem dan menyenangkan bagi kerja-kerja birokrasi dengan mengedepankan pendekatan prestasi dan tidak akan melakukan pendekatan pelicin/pembisik.

3. Karena 2019-2024 adalah finishing tuch (sentuhan akhir) dari RPJPD (2005-2025) maka Postur Perencanaan APBD benar-benar mementingkan prioritas pembangunan sebagaimana yang tertera dalam RKPD masing-masing OPD dan juga sejalan dengan prinsip keuangan Money Follow Program.

4. Konsep pembangunan ibu Kota Kabupaten benar-benar akan terwujud di tahun ketiga periode ini (yaitu tahun 2021) dengan mementingkan peninggalan sejarah yang bernilai (heritage) sebagai basis pembangunan kota. Sehingga pada tahun itu (2021) wajah ibu kota sebagai etalese kabupaten benar-benar nyata dan ada.

5. Target Pengentasan Kemiskinan selesai dalam kurun waktu 3 tahun dengan penguatan program-program pemberdayaan Masyarakat Desa, penyelesaian infrastruktur penyokong petani dan nelayan.

Ini hanyalah sepenggal harapan di usia ke-67 Kabupaten Donggala, yang mungkin oleh sebagian berpendapat bahwa cerita tersebut hanyalah “celetuk” sesaat yang akan menghilang seiring waktu berjalan. Namun setidaknya hal ini mencoba menjadi gambaran bahwa kempimpinan saat ini sedang mengalami disorientasi, dan perlu segera diingatkan oleh siapa saja agar “Sakaya/Perahu” Donggala ini bisa selamat menuju kemandirian, kejehateraan dan damai.

Waalahu a’lam bisshawab,

Dari sudut lapangan persido, 12 Agustus 2019

loading...