Hadir Sebagai Wadah Kepemudaan, Fraksi Menjadi Perhatian

oleh -65 views
Foto Bersama Para Narasumber Dengan Pengurus Fraksi

Pasangkayu, Posrakyat.com – Menjelang pemilu kepala daerah Pasangkayu 2020, yang akan dihelat pada 23 Sebtember mendatang, Forum Demokrasi Indonesia (Fraksi) menggelar diskusi publik.

Fraksi merupakan wadah pemuda yang terbentuk atas prakarsa trio pemuda jebolan Universitas Tadulako Palu. Yakni Burhanuddin, Sultan Hasanuddin dan Muh. Iqbal Al Ilslamy.

Mengangkat tema “Pemuda Dalam Menentukan Nahkoda Baru”, acara diskusi ini dilaksanakan di Cafe D’japos, Pasangkayu, Sulawesi Barat, Sabtu 4 Januari 2020 sekaligus launching (peluncuran) Fraksi secara resmi.

Kehadiran Fraksi, bertujuan untuk mewadahi kegiatan kepemudaan sebagai garda terdepan pembangunan daerah secara umum.

Disaksikan kalangan tokoh pemuda dan tokoh politik daerah itu, oleh Fraksi diskusi ini diramu secara eksklusif dan menghadirkan narasumber potensial yang digadang akan berkompetisi pada pilkada Pasangkayu nanti.

Setidaknya, terdapat delapan nama tokoh yang menjadi narasumber, namun Musawir Aziz Isham dan Saifuddin A Baso berhalangan hadir. Selain itu, ketua KNPI Pasangkayu, Arfandi Yaumil juga diundang secara khusus pun tidak hadir.

Mengetengahkan isu kepemudaan, pendidikan, dan peluang ekonomi bagi Pasangkayu sebagai penyangga ibukota baru, kegiatan tersebut juga disuguhkan dialog interaktif.

Mengawali diskusi penyampaian gagasan terkait kelanjutan pembangunan daerah, Lukman Said, menekankan sistem demokrasi perlu diperbaiki.

Pasalnya, kata ketua umum Adkasi ini, hampir setiap kontestasi di daerah ini yang terpilih rata-rata yang memiliki modal finansial meski tidak potensial.

Iapun menyoroti pelabuhan Tanasa yang menghabiskan anggaran puluhan miliar tapi belum difungsikan optimal, sehingga untuk menyangga kebutuhan hadirnya ibukota baru agak sulit bagi daerah ini.

Mantan ketua KNPI Pasangkayu, Muhammad Yusri Nur, sebelum memulai ide dan gagasannya, ia sempat melontarkan kritikan kepada ketua KNPI Pasangkayu yang tidak sempat hadir.

Padahal menurut dia, KNPI sebagai lembaga kepemudaan semestinya mempunyai andil besar untuk mengakomodasi pemuda, tapi itu tidak dilakukan.

Soal pembangunan Pasangkayu ke depan, ia memaparkan konsep tiga komponen yang perlu diterapkan. Yaitu, mengenal daerah, kemampuan manajerial, serta mampu menangkap peluang.

Tak lupa, anggota DPRD Sulbar itu, juga akan memberikan ruang kepada pemuda yang memiliki beragam kompetensi dalam membangun daerah.

Ketua Gelora Pasangkayu, Chulafaau Rasyidin, melihat Pasangkayu secara demografis, nantinya lebih membutuhkan sarana dan prasarana.

Menjawab persoalan daerah terkait kepemudaan, ia menyampaikan pemuda harus respon dengan hal-hal baru.

Mantan anggota DPRD Sulbar dua periode, Arman Salimin, menyebutkan gagasan pembangunan daerah mesti dilihat secara mikro bukan makro.

Politisi PAN Pasangkayu itu, juga menyinggung soal bantuan langsung kepada masyarakat yang selama ini hanya disalahgunakan. Padahal, seharusnya bantuan tersebut dapat meningkatkan tarap ekonomi.

Maslim Halimin, lebih mengedepankan sektor pendidikan. Menurut ketua pengurus NU Pasangkayu ini, sarana pendidikan di daerah ini meski ditopang oleh kebijakan pemerintah daerah.

Alasannya, lanjut dia, daerah belum mampu mengoptimalkan lembaga pendidikan untuk bersaing dengan daerah lain.

Ia memberikan konsep kemandirian dunia pendidikan agar lebih mempersiapkan alumni siap kerja.

Sebagai pembicara terakhir, Addas menilai, agar pembangunan daerah lebih maju, maka SDM pemuda perlu diberdayakan, bukan hanya berpatok pada SDA yang pada akhirnya habis tergerus.

Mantan Wakapolres Mamuju, menjelaskan, untuk melahirkan SDM pemuda yang bisa diandalkan, ia mengingatkan agar pemuda terbebas dari penyalahgunaan narkoba.

Seusai acara, pengurus Fraksi menyatakan, nantinya mereka akan melanjutkan acara diskusi sesi kedua dengan narasumber yang berbeda.

Tak cuma itu, di lain waktu, mereka juga berencana melaksanakan hajatan dialog antar pemuda Pasangkayu dengan tema lain.

Arham Bustaman

loading...