Padang, POSRakyat.com– Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengingatkan pers dan media di Indonesia melakukan penyesuaian dengan perkembangan teknologi.
Kata Sri, perkembangan teknologi yang ditandai dengan digitalisasi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan baru, e-commerce yang semakin dilirik generasi milenial dan generasi menengah. Karena itu, pemerintah, kata Sri, terus mendorong pepulasi muda agar kompetitif dalam melakukan inovasi, khususnya dalam pemanfaatan teknologi.
“Tahun ini kita masuk era digital, yang menciptakan dunia yang sangat berbeda dari dunia yang kita kenali, termasuk kepada lapangan kerja. Dalam lima tahun ke depan, 5,26 juta jenis pekerjaan akan diganti mesin,” kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara utama pada Konvensi Media 2018 di Hotel Inna Muara, Padang, Sumatera Barat, Kamis (8/2/2018).
Kegiatan ini menyambut Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2018 ini mengangkat tema “Iklim Bermedia Yang Sehat dan Seimbang untuk Mempertahankan Eksistensi Media Massa Nasional dalam Lanskap Komunikasi-Informasi Global”.
Digitalisasi juga membuat kebutuhan masyarakat terhadap data dan informasi menjadi meningkat, ibarat kebutuhan yang besar terhadap minyak pada tahun 1980-an.
Tak ingin mempersulit, pemerintah, kata Menteri Komunikasi dan Informartika, Rudiantara memberikan kebebasan bagi start up bisnis atau pelaku e-commerce untuk terus tumbuh di Indonesia. Tidak ada izin, yang penting registrasi.
Sementara itu, Ketua Serikat Perusahaan Pers, Dahlan Iskan membenarkan jika digitalisasi menuju Revolusi Industri 4.0 akan berdampak terhadap lapangan pekerjaan. Di China, karena perkembangan artificial intelligence atau kecerdasan buatan, dalam beberapa tahun mendatang, peran guru dan dosen akan digantikan mesin. Kata Dahlan, ini tentu saja pemberontakan terhadap dunia pendidikan yang
selama ini bertumpu pada manusia.
“Karena itu, kita juga harus mempersiapkan mental kehilangan pekerjaan dan menciptakan pekerjaan baru,” katanya.
Mantan Menteri BUMN ini kemudian mendorong wartawan untuk terus menulis dan menyiarkan informasi mengenai apa yang diyakininya baik untuk publik.
Dia mengatakan, pada akhirnya nanti akan tercipta kasta utama wartawan, yaitu wartawan yang baik yang senang menulis. Dari sini, di tengah berseliwerannya informasi dari media sosial, media massa –terutama cetak– akan tetap bertahan jika masyarakat merindukan atau yang disebut Dahlan, kangen, dengan tulisan yang disajikan wartawan yang unggul.
“Biar saja media cetak kapok kehilangan wartawannya ke media online, biar dia tahu bagaimana memperlakukan wartawannya,” kata Dahlan.
Lalu untuk tetap bertahan, bagaimana menjadikan media tetap sehat secara pendapatan? Pembicara lain, Hellen Katherina dari AC Nielsen menyarankan media juga mempertimbangkan iklan untuk menarik lebih banyak pendapatan.
“Kita selama ini suka menikmati uang iklan, tapi kurang beriklan,” ucapnya. ***



