JAMAN Sulteng Soroti Buruknya Kualitas SPAM Desa Tampiala, Kabupaten Tolitoli

oleh -
Pipa SPAM desa Tampiala tidak di tanam dan terlihat dipermukaan tanah. Foto: PasRakyat.com

APH Diminta Segera Turun Tangan, Periksa Kontraktor dan Pihak Dinas PUPR Tolitoli


PosRakyat – Ketua DPW Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN) Sulteng, Moh Rifaldi, SH angkat bicara terkait buruknya kualitas pembangunan broncaptering SPAM desa Tampiala, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli.

“Kami minta aparat penegak hukum (APH) tidak tinggal diam dan segera lakukan penyelidikan terkait dugaan buruknya kualitas pembangunan SPAM desa Tampiala yang beraroma korupsi. Ditambah lagi, infrastruktur jalan di desa Tampiala juga sengaja di rusak untuk galian jaringan pipa ke rumah rumah warga,” kata Rifaldi, SH pada media ini, Rabu 19 Januari 2022.

Tampak papan proyek Pembangunan Broncaptering SPAM desa Tampiala ditempel di rumah warga di desa Lembaharapan. Foto: ZF/ PosRakyat.com

Rifaldi mengatakan bahwa buruknya kualitas pembangunan SPAM yang di kerjakan CV Hidup Bersama disinyalir sebagai upaya untuk meraup keuntungan yang lebih besar dari yang telah ditentukan.

“Kontraktor Pelaksana hanya mementingkan keuntungan semata, sedangkan kualitas pekerjaan terlihat amburadul. Tidak hanya itu, pihak kontraktor ini juga merusak infrastruktur jalan tanpa dilakukan perbaikan kembali. Dan pihak dinas terkait terkesan melakukan pembiaran tanpa ada teguran.” Kata ketua JAMAN Sulteng, Moh Rifaldi, SH.

Sementara, ia juga menanggapi pemberitaan dari salah satu media online yang menyebutkan Edwar Pangalila selaku kontraktor CV Hidup Bersama yang mengerjakan proyek tersebut merasa dirinya telah difitnah atas kualitas buruk pekerjaan air bersih di desa Tampiala itu.

“Faktanya kedalaman galian pipa distribusi itu tidak sampai 30 centimeter. Ditambah lagi seringnya air tidak mengalir hingga berhari hari karena tersumbat pasir dan batu. itu bukan fitnah tapi fakta. Jangan ngeles,” ujar Rifaldi.

Selanjutnya, dia juga mempertanyakan pihak Edwar Pangalila sendiri selaku kontraktor, apakah pernah turun langsung ke lokasi proyek SPAM itu melihat kualitas pekerjaan. Rifaldi mengatakan, jangan sampai tidak pernah ke lokasi lantas mengatakan pekerjaan tersebut sudah baik sesuai kontrak kerja yang telah disepakati.

“Kami menduga, Edwar selaku kontraktor pembangunan SPAM itu tidak pernah ke lokasi melihat langsung hasil pekerjaan, lantas kemudian mengaku dan merasa difitnah. Itu bisa jadi dia (Edwar) yang memberikan keterangan bohong,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh PosRakyat.com diketahui Hendrik Pangalila atau sering di panggilan Wada ini adalah salah satu kontraktor yang beralamat di kota Tolitoli, dan diketahui juga banyak mengerjakan proyek khususnya di kabupaten Tolitoli.

Sementara, Anwar selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek SPAM desa Tampiala dan mantan Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR kabupaten Tolitoli, saat dikonfirmasi beberapa hari lalu terkait PHO pembangunan SPAM tersebut terkesan menutupi informasi.

Sebelumnya, kepada PosRakyat.com Anwar juga pernah mengakui kualitas buruk galian pipa yang tidak mencapai kedalaman 30 centimeter dan pihaknya kala itu berjanji akan menegur kontraktornya agar bersedia memperbaiki kembali, namun faktanya perbaikan tersebut tidak dilakukan sepenuhnya.***

Terlihat kerusakan aspal jalan akibat galian pipa, dan parahnya dibiarkan begitu saja tanpa dilakukan perbaikan kembali oleh pihak kontraktor pembangunan broncapterin SPAM desa Tampiala. Foto: PosRakyat.com
Terlihat intake SPAM desa Tampiala tertimbun pasir menyebabkan air tidak dapat mengalir ke bak penampung. Kondisi ini dibiarkan saja tanpa ada upaya perbaikan dari kontraktor pelaksana. Foto: PosRakyat.com

Penulis: ZF