Oleh : Zulkifly Pagessa – Direktur Donggala Heritage
Pagi itu puluhan pelajar, mahasiswa, historian, jurnalis, budayawan, pemerhati budaya dan komunitas seni memenuhi halaman Eks Toko Teng Hien yang menjadi Sekretariat Donggala Heritage, sebuah yayasan yang didirikan sejak tahun 2016 di Kota Tua Donggala.
Bangunan tua yang berdekatan dengan kompleks Pelabuhan Donggala itu menjadi titik kumpul bagi para peserta Jelajah Kota Tua Donggala tersebut. Kegiatan kebudayaan yang diinisiasi oleh Andrifal I.A. Latomaria, S.Pd, M.Pd., yang juga seorang historian ini adalah bagian dari kegiatan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Kehadiran dari para peserta Jelajah Kota Tua Donggala ini menjadikan suasana pagi di hari Sabtu 25 Oktober 2025. Itu sedikit berbeda dengan hari lainnya di Kota Tua Donggala yang lengang oleh aktivitas publik.

Jelajah Kota Tua Donggala yang digagas oleh Olan, panggilan akrab dari Andrifal Latomaria ini, beranjak dari ide sahaja untuk mengajak para kaum muda mengenal lebih dekat sejarah Kota Tua Donggala. Sungguh jauh berbeda apabila membandingkan kegiatan ini dengan event Fun Walk yang marak dihelat di Kota Palu dan kota lainnya di Sulawesi Tengah yang menghabiskan anggaran puluhan dan bahkan ratusan juta itu. Jelajah Kota Donggala ini justru mengajak para pesertanya berjalan kaki mengunjungi artefak sejarah penting dari masa-masa kejayaan kota pelabuhan ini di masa lampau yang kini telah menjadi reruntuhan. Artefak dan situs sejarah penting yang justru telah dilupakan oleh sebagian besar masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Donggala sendiri.
Jelajah dimulai dengan mengunjungi reruntuhan Gudang Coprafonds, bangunan yang dibangun oleh perusahaan dagang Hindia Belanda untuk memonopoli tata niaga perdagangan kopra di Nusantara. Sejak tahun 1880, kopra telah menjadi komoditi utama Nusantara khususnya di Pulau Sulawesi, termasuk di wilayah Midden Celebes atau Sulawesi Tengah. Keberadaan gudang berbentuk bangunan setengah silindris Coprafonds yang berada di Kelurahan Tanjung Batu, Kota Tua Donggala tersebut adalah artefak sejarah yang menjadi penanda ketika kota pelabuhan ini telah menjadi bagian dari perniagaan maritim dunia. Kapal-kapal dari berbagai belahan dunia melabuhkan sauh di Pelabuhan Donggala untuk mengangkut komoditi kopra ini ke benua Eropa, Asia dan Amerika.
Bangunan gudang Coprafonds tersebut adalah struktur prefabrikasi ringanyang terbuat baja galvanis bergelombang dengan penampang setengah lingkaran. Desain bangunan yang diberi nama Quonset Hut ini dikembangkan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang berlokasi di Quonset Point yang merupakan Pusat Batalyon Konstruksi Angkatan Laut Amerika di Davisville, Rhode Island. Sayang sekali, reruntuhan bangunan yang menjadi artefak penting sejarah masa lampau kota pelabuhan ini ditelantarkan bagai onggokan besi tua korosif yang tak bernilai apapun.
Dari gudang Coprafonds, rombongan peserta Jelajah Kota Tua Donggala menuju ke Tugu Adipura yang letaknya tidak berjauhan. Di lokasi ini, para peserta kegiatan bukan diajak untuk mengunjungi tugu Adipura yang dibangun untuk merayakan prestasi Pemkab Donggala meraih penghargaan Adipura tersebut, namun untuk melihat secara langsung artefak sejarah penting lainnya yaitu tujuh batang Pohon Kelapa Sawit yang tumbuh disekeliling tugu tersebut. Ketujuh pohon kelapa sawit itu adalah bagian dari sejarah masuknya tanaman endemik tersebut dari benua Afrika Afrika yang benihnya dibawa oleh Dr. D.T. Pryce pada tahun 1848. Ketujuh pohon kelapa sawit yang berada di Kota Tua Donggala itu adalah bagian dari 146 slot benih kelapa sawit yang sebarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke seluruh Nusantara pada tahun 1858.
Setelah melihat ketujuh pohon kelapa sawit tersebut, para peserta Jelajah Kota Tua Donggala diajak untuk mengunjungi Rumah KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), sebuah perusahaan pelayaran Belanda yang memonopoli rute transportasi laut dimasa Pemerintahan Hindia Belanda dari tahun 1888 hingga 1966. Rumah KPM yang lokasinya berada dipersimpangan Jalan Lamarauna, Jalan Megawati dan Jalan Bhakti, Kota Tua Donggala yang kini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tersebut, adalah artefak yang menjadi bukti akan penting dan strategisnya kota pelabuhan ini dalam sejarah kemaritiman Nusantara dimasa lampau.
Langgam Arsitektur Kolonial dengan sistem struktur dan konstruksi bangunan Eropa yang menjadi ciri khas Rumah KPM ini adalah warisan pengetahuan dan teknologi dimana proses akulturasi dan adaptasi kultural berwujud dalam bentukan arsitektural. Perusahaan pelayaran Hindia Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij ini di nasionalisasi pada tahun 1960 lewat Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 1960 tentang Nasionalisasi Perusahaan N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij di Indonesia. Seluruh aset dari perusahaan pelayaran Hindia Belanda tersebut selanjutnya dikelola oleh PT. PELNI yang didirikan pada tanggal 28 April 1952 di Jakarta berdasarkan SK. Menteri Perhubungan Ir. R. Djuanda nomor 2/1/2 tanggal 23 Februari 1952.
Karakteristik arsitektur kolonial Rumah KPM ini dikenal dengan sebutan “Indische Stijl” ini adalah perpaduan arsitektur Eropa dan arsitektur lokal yang berkembang di Hindia Belanda dari abad ke19 hingga abad ke-19. Langgam arsitektur Indische Stijl ini adalah adaptasi gaya arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis Nusantara. Ciri khas arsitektur kolonial pada Rumah KPM ini terlihat pada fasad bangunan dengan bukaan yang lebar, denah bangunan yang simetris, serambi dan koridor yang memanjang dan disertai taman yang luas disekelilingnya. Bangunan Rumah KPM yang memadukan struktur kayu ulin dengan tembok ini atelah ditetapkan menjadi cagar budaya penting yang sepatutnya dijaga dan dilestarikan.
Dari Rumah KPM ini, para peserta kembali diajak mengunjungi Chung Hwa School yang tidak terlalu jauh jaraknya dan hanya berbatas dengan Sungai Maleni yang membelah Kota Tua Donggala. Perjalanan menuju Chung Hwa School atau lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Cina ini melewati Jembatan Megawati, yang penamaannya diberikan oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno ketika berkunjung pertama kalinya di Kota Tua Donggala pada tahun 1957.
Di Sekolah Cina ini, Jamrin Abubakar seorang Penulis Budaya yang juga menjadi Tenaga Ahli Cagar Budaya Kab. Donggala memberikan penjelasan secara rinci kepada peserta Jelajah Kota Tua Donggala tentang sejarah panjang dari bangunan sekolah yang didirikan pada tahun 1924. Gejolak politik di Indonesia pada tahun 1965 juga berimbas pada Chung Hwa School ini yang kemudian dihentikan operasionalnya pada tahun 1966. Bangunan Chung Hwa School yang sempat menjadi Kantor Bupati Donggala di era Bupati Nabi Bidja yang menjabat dari tahun 1999 hingga 2004. Kini, Sekolah Cina yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya itu telah dimanfaatkan menjadi kampus Universitas Muhammadiyah Donggala.
Jelajah Kota Tua Donggala berlanjut ke situs sejarah lainnya yaitu bangunan Souraja yang terletak di Kelurahan Labuan Bajo. Bangunan berkonstruksi kayu ini telah mengalami kerusakan yang cukup parah akibat dampak dari peristiwa bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda Kab. Donggala, Kota Palu dan Kab. Sigi pada 28 September 2018. Bangunan Souraja ini adalah satu-satunya bangunan sejenis yang masih tersisa di Kota Tua Donggala. Souraja Labuan Bajo ini berbeda bentuk dan fungsi sosialnya dengan bangunan Souraja di Kota Palu yang diberi sebutan baru Banua Oge. Souraja atau Banua Oge di Kota Palu menjadi hunian bagi keluarga Magau dan Madika Kerajaan Palu dari etnis Kaili, sementara Souraja Labuan Bajo ini menjadi hunian bagi para keluarga saudagar dari beragam latar etnis.
Hingga paruh akhir tahun 1950-an di Kota Tua Donggala masih berdiri beberapa bangunan Souraja lainnya yang kemudian telah berganti menjadi bangunan baru berstruktur beton. Di lokasi bangunan Souraja Labuan bajo yang juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini, para peserta Jelajah Kota Tua Donggala hanya bisa mengamati bangunan ini dari sekelilingnya karena kondisi bangunan yang telah rusak dan akses tangga kayu yang telah hilang.
Dari bangunan Souraja Labuan Bajo ini, peserta Jelajah Kota Tua Donggala menuju ke kompleks Pelabuhan Donggala untuk mengamati dari dekat Kantor Douane, istilah bahasa Belanda untuk menyebut Kantor Bea Cukai. Bangunan berlantai tiga ini tidak lagi digunakan seiring dengan kepindahan operasional Pelabuhan Donggala ke Pantoloan di tahun 1978. Bangunan Kantor Douane yang didirikan pada tahun 1968 ini masih terlihat kokoh walau dalam kondisi yang sudah tidak terawat.
Ada kisah menarik tentang sejarah bangunan Kantor Douane ini. Pada tanggal 30 Januari 1969, The Beatles, band rock dari Liverpool Inggris yang dibentuk oleh John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr pada tahun 1960 melakukan konser mereka di atap bangunan Apple Corp yang menjadi markas mereka di jalan 3th Savile Row, Mayfair wilayah downtown Kota London. Sejak awal tahun 1960 tersebut, pengaruh dan trend musik The Beatles juga telah sampai di Kota Tua Donggala. Setahun setelah konser The Beatles yang digelar di rooftop Apple Corp. itu sebuah kelompok musik di Kota Tua Donggala bernama Band Harimau terinspirasi mengikuti jejak The Beatles untuk menggelar konser musik mereka di rooftop Kantor Douane ini.
Jelajah Kota Tua Donggala berakhir di Kompleks Pelabuhan Donggala ini, sebagian peserta yang terdiri dari para pelajar SMP 1 Donggala, SMP 2 Donggala, SMA 1 Banawa, SMK 1 Banawa, SMK 2 Banawa, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Alkhairaat Donggala kemudian membubarkan diri. Sementara itu, peserta Jelajah Kota Tua lainnya yang terdiri dari Mahasiswa Jurusan Sejarah FKIP Univ. Tadulako, Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Univ. Islam Negeri Datokarama, Ikatan Mahasiswa Banawa (IMAWA), Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Donggala, Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Donggala Bengkel Sandiwara Donggala, Sanggar Seni To Banava dan beberapa Pegiat Budaya, Jurnalis, Akademisi, Sejarawan dan masyarakat melanjutkan kegiatan tersebut dengan mengunjungi Pameran Foto Kota Tua Donggala yang bertempat di Eks Toko Teng Hien yang menjadi sekretariat Yayasan Donggala Heritage. Pada pelaksanaan kegiatan ini juga digelar penayangan film dokumenter pendek yang berjudul Pelabuhan Donggala 1948. Film dokumenter karya Cees J. Taillie yang menjadi arsip Nederlands Instituut voor Militaire Historie ini memperlihatkan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Donggala pada tahun 1948.
Gagasan sahaja dari Andrifal ini membuka wawasan baru tidak hanya bagi praktik pendidikan sejarah bagi para pelajar di sekolah, namun juga wacana baru bagi praktik wisata sejarah dan budaya di Kota Tua Donggala. Hal ini sejalan dengan hasil rekomendasi pada Heritage Seminar yang digelar tahun 2016 hasil kerjasama antara Donggala Heritage, Fond Podiumkunsten Performing Arts Fund Netherland, Kingdom of the Netherlands, PeerGroup Locatietheater Noor-Netherland dan Yayasan Kelola yang merekomendasikan Kota Tua Donggala menjadi Living Museum.
Tujuan utama dari kegiatan Jelajah Kota Tua Donggala untuk mewariskan ingatan sejarah dengan mengunjungi artefak yang menjadi penandanya adalah mendekatkan storytelling atau kisah-kisah sejarah dengan locus atau situs dimana sejarah itu pernah tumbuh. Program kegiatan Jelajah Kota Tua Donggala yang didukung penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII dan Donggala Heritage ini sudah sepatutnya mendapat apresiasi dari semua pihak dan dilanjutkan kembali dimasa akan datang. Semoga. *



