Meski Banyak Tantangan, Pendidikan Tinggi Harus Optimis Bangunan Indonesia Maju

oleh -
oleh
Istimewa

“Untuk memperluas akses (pendidikan tinggi) itu dengan memperbesar perguruan tinggi, bukan memperbanyak perguruan tinggi,” ujar Nizam.

Untuk mempercepat penggabungan PTS, Ditjen Diktiristek memberikan dana bantuan minimal sebesar 100 juta rupiah untuk setiap perguruan tinggi. Tercatat sejak tahun 2015 hingga sekarang, jumlah PTS yang sudah digabungkan sebanyak 803 PTS.

Baca Juga: ESDM Sulteng Akan Surati PT Akas Terkait Pengambilan Material Timbunan untuk Jalan Trans Sulawesi

Sementara itu, untuk mendorong riset dan inovasi, Ditjen Diktiristek mengalokasikan anggaran melalui program Matching Fund-Kedaireka. Bahkan pendanaan proposal Kedaireka meningkat dari tahun 2021 ke tahun 2022, yang awalnya hanya 427 proposal menjadi 1.093 proposal.

Ditjen Diktiristek juga mendorong kolaborasi riset perguruan tinggi Indonesia dengan luar negeri melalui berbagai skema kerja sama seperti Newton Fund, e-Asia Joint Research, Kolaborasi Pengetahuan dan Inovasi Australia Indonesia (KONEKSI), dan lainnya.

“Kolaborasi ini kami dorong agar perguruan tinggi Indonesia menjadi perguruan tinggi berkelas dunia melalui riset-riset dengan perguruan tinggi berkelas dunia,” tutur Nizam.

Dalam kesempatan yang sama pada acara Media Gathering Diktiristek di Bogor,  Jumat (14/7/2023) malam tersebut, Plt. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Sri Gunani Partiwi menambahkan adanya upaya yang dilakukan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi melalui bantuan fasilitasi akreditasi internasional.

“Salah satu cara memfasilitasi seluruh perguruan tinggi di Indonesia adalah kami akan memberikan sejumlah dana untuk mereka para perguruan tinggi yang sudah sangat bagus untuk bisa berbagi dengan melakukan pembinaan ke perguruan tinggi lainnya yang akreditasinya masih rendah, dengan tujuan mengakselerasi peningkatan kualitas prodi-prodi di indonesia,” tutur Sri.

Direktur Sumber Daya Ditjen Diktirisek Sofwan Effendi menyampaikan kebijakan untuk meminimalisir beban kerja dosen dengan memberikan keleluasaan dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi di mana dengan mengedepankan minat dosen.

“Dosen bisa lebih fokus pada tridarma perguruan tinggi. Perguruan tinggi sekarang bisa bebas sesuai dengan minat dosen, misalnya lebih fokus ke pengabdian atau pembelajaran. Itu tergantung dosen dan pihak universitas,” ucap Sofwan.

Untuk meminimalisir beban kerja dosen, Sofwan juga menuturkan adanya inovasi pengelolaan berbagai hal teknis dan administratif, yaitu aplikasi SISTER berbasis cloud yang memungkinkan penyatuan informasi seluruh hal terkait administratif dosen. Sistem ini akan mulai diberlakukan sejak 1 Agustus mendatang.

“Mulai 1 Agustus kita sudah mulai beralih ke cloud sistem sehingga nanti hal-hal yang bersifat sangat hectic menggunakan server akan berkurang dan seluruh sistem tentang dosen akan disatukan, baik kinerja maupun hal lainnya. Maka dari itu, harus ada sinkronisasi data antara PDDIKTI dengan perguruan tinggi sehingga data yang diakses dari mana pun hasilnya sama,” tutur Sofwan.***

Sumber: Infopublik