Polres Touna Tak Profesional, Tangani Kasus Dugaan Pengeroyokan?

oleh -
Ini adalah PPT yang ditetapkan tersangka oleh Polres Touna. Seharusnya PPT korban dan SR tersangka. Foto: Istimewa

Touna, Posrakyat.com – Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Tojo Una Una, Sulawesi Tengah dinilai tidak profesional tangani kasus dugaan pengeroyokan yang menetapkan tersangka AUL dan PPT.

“Pada saat BAP ini torang memberikan keterangan dari awal, tapi dari kepolisian sama sekali tidak mau dengar,” kata salah satu tersangka PPT kepada Posrakyat.com Jumat (28/6/2019).

PPT saat dihubungi di Lapas Ampana menjalani penahanan kasus dugaan pengeroyokan itu. Namun PPT tidak mau disebut pengeroyokan lantaran dia juga korban.

Dalam kasus ini PPT dan AUL juga melapor ke Polres atas dugaan penganiayaan, dan laporan tidak di proses, sehingga Polres Tojo Una Una dinilai tidak professional tangani kasusnya.

Karena Seharusnya SR juga masuk tahanan karna itu perkelahian tanding satu lawan satu bukan dua dua AUL tidak pernah menyentuh badannya SR.

“Saya hanya menahan MNR (Sepupu SR) untuk tidak meninggalkan rumah, polisi sengaja memberikan pasal 170 karna dipaksakan untuk menahan saya dan AUL, yang dilakukan adalah kesaksian palsu 5 orang, itu gak benar,” kata PPT.

“Polres tidak mau masukan keterangan awal sampai akhir ke dalam BAP. Kitorang (kita) sempat komplin, nah itu awal masalah kejadian karena rumah kita kunci. Polisi bilang oh tidak pokonya kejadiannya pas kamu baku bantah itu,” cerita PPT.

Kata PPT, Rumah milik ayahnya dalam keadaan terkunci tapi SR dan MNR berada di dalam rumah.

“Saya jelaskan ke Polisi, saya masuk dia ada di dalam sampai kitorang cekcok. Saya minta keluar kalian (SR dan MNR),” katanya lagi.

Ia juga mengatakan rumah yang dimaksut PPT itu sudah diminta untuk di kosongkan dan tidak di tempati lagi oleh SR. SR ini adalah istri sirih ayah PPT/AUL yang sudah pisah sejak dua tahun lalu karena ketahuan diduga SR selingkuh dengan Oknum Polisi Touna inisial D.

Yang disayangkan oleh PPT pemicu lain ditemukan anak oknum Polres Tojo Una Una inisial D ada di dalam rumah tersebut. D tersebut diduga adalah pacar SR sampai saat ini.

“Pada saat saya di BAP pihak Kepolisian tidak memasukan pemicu sehingga terjadi cekcok, dalam hal ini mulanya itu adanya anak oknum Polisi Polres Touna di rumah papa saya,” jelas PPT.

PPT mengatakan, kronologisnya berawal tanggal 14 Mei 2019 bahwa dia dan AUL menjenguk adiknya (anak dari Siti dan ayahnya) yang umurnya 10 tahun inisial CST di Desa Sumoli.

“Saya menemukan anak sari D umur 13 tahun sedang berbaring di tempat tidur adik kami CST umur 10 tahun berarti selama ini adik kami sudah didik untuk tidur sekamar dengan anak belainan agama bukan muhrim dan berlainan jenis,” ujar PPT.

Sehingga AUL dan PPT marah, saat malam itu juga pihak aparat setempat seperti lurah dan tokoh masyarakat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan bersepakat untuk menyuruh mereka untuk menelepon ayah (anggota Polri) dari anak tersebut agar di jemput.

“Yang ironisnya orang tua Anak itu tidak datang, hanya seorang anggota polisi yang menjemput,” katanya.

PPT menegaskan, sampai kapan keberpihakan Polisi kepada SR, Polisi diminta tidak tebang pilih dan harus memproses juga laporan PPT dan AUL soal kasus tersebut.

“Apakah karena SR pacarnya anggota polisi berinisial D lantas kebal hokum,” tegas PPT.

Kapolres Tojo Una Una AKBP Boyke Karel Wattimena, SIK, dihubungi Posrakyat.com tidak berkomentar soal kasus tersebut.

“Ke Kasat Reskrim kalau kamu mau tanyakan perkembangan penanganan perkara ya,” kata perwira dua bunga di pundak itu.

SPDP Polres Tojo Una una ke PPT. Foto: Istimewa

Reporter Investigasi: TIM

loading...