Siapa Eman yang Disebut Pintu Masuk Ungkap Pelaku PETI Sungai Tabong? LBH Progresif Minta Ini ke Polisi  

oleh -
Sebelum dilakukan penertiban oleh kepolisian tampak aktifitas alat berat di lokasi PETI di Sungai Tabong, Kabupaten Buol. Foto: Istimewa

PosRakyat – Sekertaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Progresif Sulteng, Abdul Razak, SH mempertanyakan pengungkapan tersangka terkait kasus pertambangan emas tampa izin (PETI) di Sungai Tabong, Kabupaten Buol.

Razak mengatakan, bahwa sekira dua puluh hari yang lalu pihak Polda telah melakukan operasi penertiban tambang emas ilegal di Sungai Tabong. Namun hingga saat ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulteng.

“Padahal, tim Polda bersama Polres Tolitoli dan Polres Buol diketahui telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat berat di lokasi pertambangan ilegal Sungai Tabong,” kata Razak yang akrab disapa Cake itu, Selasa pagi, 2 Agustus 2022.

Menurut dia, berkaitan soal tambang emas ilegal di Sungai Tabong itu pihak kepolisian harus betul – betul membuktikan penegakan hukum berjalan sebagaimana mestinya.

“Pandangan saya, harus ada pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah tersebut. Hal ini untuk membuktikan bahwa penegak hukum betul betul melakukan upaya penegakan hukum bagi perusak lingkungan,” kata Razak.

“Agar tidak terjadi stigma di masyarakat awam, bahwa penertiban aparat penegak hukum terhadap penambang ilegal itu cuma lipstik,” katanya lagi.

Sementara, Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Sulteng, Kompol Sunggeng Lestari saat dialog di RRI Tolitoli melalui zoom meeting pada Rabu, 13 Juli 2022 lalu menyampaikan, setelah penertiban PETI di Sungai Tabong Tim Polda Sulteng berfokus pada pengungkapan pelaku dan para pemodal alias cukong di pertambangan ilegal tersebut.

Kompol Sugeng juga menyampaikan bahwa, saat penertiban PETI Sungai Tabong, Tim dari Polda Sulteng bersama jajaran Polres Tolitoli dan Buol berhasil mengamankan 13 unit alat berat jenis excavator.

Diketahui barang bukti berupa 13 unit alat berat yang diamankan saat penertiban itu, 10 unit telah diamankan di Polda Sulteng.

Hal ini juga telah diakui Kompol Sugeng saat dikonfirmasi terkait keberadaan alat berat dari PETI Sungai Tabong itu.

“Benar di Polda telah diamankan 10 unit alat berat yang ditemukan saat operasi PETI di Sungai Tabong,” kata Kompol Sugeng seperti dikutip dari WartaSulawesi.

Bahkan saat dialog di RRI Tolitoli, Kompol Sugeng menyampaikan bahwa pihak Polda Sulteng telah memeriksa 4 orang saksi. Namun tidak disampaikan siapa saja saksi yang diperiksa itu.

“Sudah 4 orang saksi yang diambil keterangannya oleh penyidik subdit Tipidter Ditreskrim Polda Sulteng,” kata Sugeng saat dialog di RRI Tolitoli, Rabu lalu.

Pasca penertiban PETI di Sungai Tabong itu, salah seorang eks penambang memberikan informasi kepada wartawan di Palu bahwa semua alat berat yang masuk dan beroperasi di PETI Sungai Tabong dikoordinir oleh orang yang bernama Eman.

Eks penambang itu mengatakan, Herman alias Eman lah yang berperan penting atas masuk nya alat – alat berat ke wilayah Sungai Tabong untuk melakukan penambangan yang akhirnya merusak kawasan hutan lindung di Wilayah Buol dan Tolitoli itu.
Namun, walau namanya santer disebut – sebut terlibat dan memiliki peran penting atas pertambangan ilegal di Sungai Tabong, tapi polisi sepertinya masih enggan melakukan pemeriksaan terhadap Eman.

Eks penambang yang meminta namanya tidak ditulis itu, secara terang – terangan menyebutkan bahwa Eman lah tempat para cukong itu menyetor uang masuknya alat berat ke PETI Sungai Tabong.

Satu unit alat berat setorannya sebesar Rp50 Juta dan diberikan kepada Eman. Begitu juga dengan setoran talang di lokasi PETI Sungai Tabong juga diberikan kepada Eman dengan nilai Rp12.500.000 per talang.

Bahkan aliran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang digunakan di PETI Sungai Tabong, juga dikendalikan oleh Eman. Setiap hari, tidak kurang dari 170 galon masuk melalui aliran sungai Desa Janja.

“Itu rutin tiap hari, karena pemakaian lima puluh galon itu tidak sampai 2 hari. Itu semua eman yang urus,” tutur eks penambang itu.

Menurutnya, PETI di Sungai Tabong sudah beroperasi sejak dua tahun yang lalu. Saat itu, awalnya baru lima unit alat berat beraktifitas. Seiring berjalanya waktu, tepatnya Oktober 2021 aktifitas PETI kembali marak, tidak tanggung-tanggung alat yang beroperasi sudah 32 unit, sehingga kerusakan hutan tak terhindarkan.

“Pertama alat saya kenal itu, baru lima. Setelah itu, banyak lagi penambang masuk sampai 32 alat. Posisi di bulan 10 pas waktu mendekati penertiban kedua, tinggal posisi 28 alat, berkurang lagi 22 alat hingga pas penertiban,” jelasnya.

Dia menyampaikan, para cukong yang bermain di Sungai Tabong itu ada yang berasal dari Kota Palu, Makasar, Jawa Tengah, Sulawesi Barat dan Tolitoli.

Bahkan eks penambang itu juga menyampaikan bahwa para cukong yang bermain di PETI Sungai Tabong yakni inisial DN memiliki satu unit alat berat, KD memiliki dua unit alat berat, BTR memiliki tiga unit alat berat, SC memiliki empat unit alat berat, SBL memiliki tujuh unit alat berat, MN empat unit, LMBG empat unit alat berat dan AMB dua unit.

Meski pun demikian nama Eman santer disebutkan, namun hingga berita ini dinaikkan, pihak Polda melalui Kompol Sugeng Lestari enggan menjawab pertanyaan wartawan terkait apakah akan memeriksa Eman.***

Penulis: ZF