Tudingan Muscab PPP Tolitoli di “Setting” Deadlock Adalah Fitnah

oleh -
Sekwil PPP Sulteng, Imam Sudirman, Foto: Ist

PosRakyat – Sekretaris Wilayah (Sekwil) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Sulteng Iman Sudirman membantah tudingan yang di sampaikan pengurus Demisoner DPC PPP Tolitoli Edy Suhasmoro, bahwa pelaksanaan Muscab PPP Tolitoli di “Setting” deadlock merupakan tuduhan yang berlebihan dan tidak mendasar.

“Tudingan saudara Edy Suhasmoro terhadap Muscab DPC Tolitoli terhadap DPW PPP Sulteng terlalu berlebihan dan tidak benar adanya,” kata Sekwil PPP yang saat itu selaku pimpinan sidang pleno III.

Menurutnya jika diperhatikan dengan
saksama forum muscab mulai memanas sejak ada pertanyaan tentang keabsahan SK beberapa PAC di Tolitoli pada sidang pleno I. Kemudian berlanjut pada pleno III sidang telah dipimpin oleh DPW sebagaimana amanah PO 01 tahun 2021 PPP. Sesaat sidang dibuka maka
pimpinan sidang mengecek kembali registrasi peserta.

Dari 10 PAC yang didaftarkan dalam
sipol, lanjut Iman Sudirman, lembar registrasi hanya ditandatangani oleh 8 PAC demikian pun dalam registrasi ulang tersebut, satu orang utusan PAC membawa kertas bertuliskan identitasnya, kemudian 1 orang
utusan PAC lainnya tidak membawa KTP atau dokumen identitas pribadi lainnya.

Dalam masa registrasi ulang tersebut saudara Asmaul berbicara memberikan informasi dan dokumen
sanggahan bahwa berdasarkan info dari sekretaris DPC Kabupaten Tolitoli terdapat beberapa
SK PAC yang diragukan keabsahannya.

“Dalam situasi tersebut kemudian bergulir pendapat untuk mengeluarkan saudara Asmaul dari ruang sidang dengan alasan karena saudara Asmaul
sebelumnya telah dikeluarkan keanggotaannya dari PPP,” ujarnya.

Sekwil mengatakan Asmaul sendiri membawa dokumen putusan mahkamah partai dimana telah memulihkan dan mengembalikan keanggotaannya yang disaksikan oleh pimpinan sidang dan ketua DPC Demisioner. Pimpinan sidang kepada peserta sidang meminta untuk mempertimbangkan kehadiran saudara
Asmaul karena muscab adalah keputusan tertinggi dalam tingkat DPC. Namun peserta sidang atau tepatnya pengurus DPC demisioner memaksa untuk mengeluarkan Asmaul dengan alasan sampai dengan mereka demisioner tidak pernah menerima Salinan putusan dari mahkamah
partai tersebut.

Atas desakan peserta sidang kemudian pimpinan sidang memutuskan untuk
mengeluarkan saudara Asmaul namun saudara Asmaul tidak mau keluar karena merasa berhak tetap sebagai anggota PPP. Sebab belum diindahkan kemudian pimpinan sidang memerintahkan kepada panitia pelaksana untuk mengeluarkan saudara Asmaul. Oleh karena
panitia belum juga bisa mengeluarkan saudara Asmaul sehingga kemudian pimpinan sidang dengan sangat tegas meminta saudara Asmaul untuk keluar.

Kemudian terjadilah kericuhan
dan karena situasi sidang sudah tidak kondusif maka pimpinan sidang  mengskorsing sidang sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

“Jadi apa yang ditudingkan oleh saudara Edi Suhasmoro yang juga sebagai PAW DPRD Tolitoli atas saudara Asmaul adalah tudingan yang tidak berdasar,” ucapnya.

Jika diperhatikan rangkaian muscab
dari kunjungan Ibu ketua DPW PPP Sulawesi Tengah ke Kediaman mantan ketua DPW PPP Provinsi Sulawesi Tengah, Kemudian sambutan ketua DPW dalam pembukaan muscab,
kemudian kehadiran ketua DPW dalam Muscab adalah keliru jika deadlock muscab Tolitoli adalah by desain.

Terkait kepulangan ketua DPW dan anggota lainnya semuanya karena
alasan keamanan dimana menurut kami DPC sebagai pelaksanan gagal mengkondusifkan Muscab.

“Sama sekali tidak ada settingan, Itu Fitnah,” jelasnya.

Yang benar lanjutnya, DPW tidak mau
mencampuri terlalu jauh apa yang menjadi polemik di internal DPC PPP Kabupaten Toli-toli. Olehnya kata dia, berharap anasir yang menyebut bahwa deadlock muscab DPC PPP Toli-toli
adalah settingan segera dihentikan apalagi anasir ini dikembangkan oleh salah satu Anggota DPRD Kabupaten yang seharusnya bertugas menjaga kondusifitas partai.

“Selama ini hubungan DPW dan DPC Tolitoli berjalan dengan baik maka tidak boleh ada narasi yang mempertentangkan keduanya,” tutup Sekwil.***

Penulis: Mading