Aktivitas Pelabuhan Donggala Makin Padat

oleh -
Kepala Kantor Wilayah Kerja Pelabuhan Donggala, ALMUBIN MARWATA, SH, MH. (Foto : Jamrin AB)

Donggala, Posrakyat.com – PELABUHAN Donggala pascabencana gempa bumi dan tsunami kini bergairah lagi di tengah pasang-surutnya aktivitas dan regulasi yang mengaturnya selalu berubah. Terlepas dari hilangnya status UPP (Unit Penyelenggara Pelabuhan) yang pernah dinikmati selama tiga tahun (2016-2019), saat ratusan buruh terus melakukan bongkar-muat. Dalam setahun rerakhir kapal berbobot ratusan hingga ribuan grosstonage (GT) masuk berlabuh melakukan bongkar muatan terutama muatan semen dan pupuk.

“Alhamdulillah dengan adanya kapal besar yang bertonase hingga 2600 GT ini sangat memberi harapan bagi masyarakat Donggala bisa mendapatkan pekerjaan. Saat ini ada sekitar 200 buruh khusus bekerja di dermaga utama pelabuhan Donggala, itu di luar tempat ini lebih banyak lagi seperti di Samas dan beberapa TUKS tambang itu sekitar 400-an orang,” kata Kepala Kantor Wilayah Kerja (Wilker) Pelabuhan Donggala, Almubin Marwata, SH, MH (58 tahun), kemarin.

Menurut Almubin banyak pengusaha sangat senang dalam melakukan pembongkaran muatan di Donggala, selain birokrasi yang dimudahkan juga buruh yang tersedia cukup banyak dan terbilang cepat dalam penyelesaian pekerjaan. Selama ini tenaga buruh di Donggala ditangani TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) Mutiara telah berpengalaman dan selalu siap sesuai komitmen.

“Bagi kami di TKBM itu selalu siap dalam menyelesiakan pekerjaan. Kalaupun kemudian ada keterlambatan dari yang ditargetkan, itu biasanya hanya faktor ketersediaan armada angkutan yang terbatas atau kadang lambat. Itu mempengaruhi karena begitu barang dari kapal langsung dimuat ke armada, sehingga bila truk lambat itu mempengaruhi waktu pembongkaran,” kata Kepala TKBM Mutiara, Umar H. Mide beberapa waktu lalu.

Almubin Marwata mengatakan, banyaknya kapal yang melakukan bongkar-muat barang di kota Donggala dalam setahun terakhir, terjawab sudah terhadap berbagai isu yang cukup lama kalau seakan-akan pelabuhan Donggala tidak layak. Sebelumnya tersiar isu kalau tidak memenui syarat untuk pembongkaran barang dalam skala besar dan tidak siapnya tenaga kerja, kenyataannya semua berjalan lancar. Karena itu ke depan pelabuhan ini dipastikan bisa aktif kembali seperti tahun 1970-an selama ada kebijakan pemerintah mengarahkan aktivitas bongkar muat barang diprioritaskan di Donggala.

Bahkan pascabencana gempa bumi, Pelabuhan Donggala termasuk yang akan dibangun lagi dengan ketambahan sarana dermaga dan perangkat pendukung dengan penggunakan dana APBN. Menurut Almubin beberapa waktu lalu tim dari pusat telah turun melakukan peninjauan dan melakukan pertemuan dengan Bupati Donggala, Kasman Lassa, SH, MH terkait pembuatan dermaga di kawasan Anjungan Gonenggati Kabonga. Pembangunan dermaga tersebut proses tendernya telah selesai dan akan dikerjakan perusahaan dari Australia dengan biaya sekitar Rp 100 milyar lebih. Bagi masyarakat Donggala, pelabuhan merupakan sumber perekonomian vital sehingga mendapat sambutan yang baik sebab selama dua puluh tahun lebih dalam pengelolaan PT. PELINDO (Pelabuhan Indonesia), Pelabuhan Donggala cukup lama tidak ada aktivitas yang memadaimembuat banyak buruh yang menganggur. Keberadaan PELINDO lebih fokus pada Pelabuhan Pantoloan dengan mengabaikan Pelabuhan Donggala yang semula merupakan induk, kemudian hanya jadi Wilker dari batas Loli hingga Desa Surumana. Namun saat ini Depot Pertamina tidak lagi masuk Wilker Donggala karena dimasukkan ke wilayah Palu (Pantoloan).

JAMRIN ABUBAKAR

loading...