Meski Banyak Tantangan, Pendidikan Tinggi Harus Optimis Bangunan Indonesia Maju

oleh -
oleh
Istimewa

PosRakyat – Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Nizam mengatakan banyak tantangan yang dihadapi pemerintah dalam membangun pendidikan tinggi Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Dalam hal pendanaan pendidikan tinggi, Indonesia memang masih terbatas jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lain seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia.

Demikian pula dalam pendanaan untuk riset dan pengembangan, Nizam menyebutkan berdasarkan data Bank Dunia 2019, anggaran riset di Indonesia sekitar 0,08 persen dari GDP. Angka tersebut juga masih didominasi dari anggaran pemerintah.

“Saat ini kita sedang bermimpi menjadi negara maju. Menjadi negara maju kuncinya ada dua, SDM berkualitas dan ekonomi berbasis pada inovasi,” kata Nizam dalam keterangan tertulisnya yang di kutip di Jakarta, Minggu kemarin.

Baca Juga: Seminar Nasional HBA ke – 63 di Untad, Kajati Sulteng Bilang Begini 

Baca Juga: Gerak Cepat, PT Passokorang Lakukan Perbaikan Kembali Saluran di Jalan Gawalise Palu

Meski banyak tantangan bagi pendidikan tinggi sebagai salah satu garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia maju, pemerintah tidak boleh pesimis.

“Dengan keterbatasan anggaran yang ada, institusi pendidikan tinggi harus tetap optimistis dalam membangun dan membawa Indonesia menuju negara maju,” ujar Nizam,

Optimisme tersebut dibuktikan dengan keseriusan Ditjen Diktiristek dalam mendanai pendidikan tinggi tuturnya. Dan kemudian Ditjen Diktiristek juga lanjut dia, telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung peningkatan kualitas SDM perguruan tinggi baik bagi perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).

Baca Juga: Srikandi Ganjar Beri Pelatihan Pembuatan Kue Tradisional Khas Sulawesi Tengah ke Masyarakat Donggala 

Baca Juga: Polda Sulteng dan TNKT Diminta Turun Tangan Terkait Pembabatan Hutan di Pulau Kayome 

Dia menekankan bahwa tidak ada lagi dikotomi terhadap PTN dan PTS. Meskipun anggaran biaya operasional perguruan tinggi hanya diberikan kepada PTN, namun alokasi anggaran yang dikelola Diktitristek juga diberikan untuk PTS dalam jumlah besar.

“Separuh dari anggaran pendidikan tinggi yang dikelola oleh Kementerian itu sebanyak 45 persen diberikan kepada perguruan tinggi swasta untuk penelitian, program pelatihan dosen, program kemahasiswaan, dan sebagainya,” tutur Nizam.

Nizam juga menyoroti upaya Ditjen Diktiristek dalam meningkatkan kualitas kelembagaan perguruan tinggi. Banyaknya jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang mencapai lebih dari 4 ribu mendorong Ditjen Diktiristek untuk merasionalkan jumlah perguruan tinggi dengan cara menggabungkan PTS-PTS kecil menjadi perguruan tinggi yang lebih besar dan sehat.