Tokoh Muda Alkhairaat Desak Polisi Usut Aktor dan Donatur Demo yang Berujung Kematian di Parimo

oleh -
Habib Mohammad Sadig al-Habsyi

PosRakyat – Tokoh muda Alkhairaat, Habib Mohammad Sadig al-Habsyi meminta pemerintah mengusut serta bersikap transparan dalam kasus tewasnya warga yang melakukan aksi unjuk rasa terkait tambang emas di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Ia menilai, kasus yang berujung demostrasi penolakan hingga mengakibatkan salah seorang warga meninggal dunia itu tidak bisa didiamkan.

“Sebagai warga sipil dan muslim, saya menyesalkan dan turut berduka karena demo penolakan tambang di Parimo telah menyebabkan salah seorang warga setempat, Erfaldi, meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” ungkap tokoh muda Alkhairaat tersebut ketika dihubungi oleh media ini di Palu, Senin 14 Februari 2022.

Sejalan dengan itu, Habib Sadig meminta pemerintah mengusut tuntas dan membuka kasus tambang di Parigi Moutong ke pada publik.

“Pemerintah, baik kepolisian maupun pihak Pemda Sulteng yang terkait, harus mengusut dan mengungkap tuntutan masyarakat terkait persoalan tambang tersebut,” katanya.

“Kapolda sudah menyatakan akan menegakkan hukum kepada anggotanya bila terbukti terlibat dalam kematian Erfaldi. Kita apresiasi niat tersebut. Tetapi, jangan lupa, kepolisian perlu bersikap terbuka dan masyarakat harus mengawal penegakan keadilan bagi almarhum,” tegasnya.

Aksi demonstrasi di Parigi Moutong yang menuntut pencabutan IUP PT Trio Kencana pada Sabtu 12 Februari 2022 tidak luput dari perhatian tokoh muda Alkhairaat tersebut.

“Dalam iklim demokrasi, demonstrasi penting sebagai mekanisme kontrol kepada pemerintah. Tetapi ini tidak bisa dilakukan seenaknya. Ada aturan. Ada UU dan Peraturan Kapolri yang mengatur aksi masa. Contohnya, tidak boleh menggangu ketertiban umum dan ada waktu berdemonstrasi,” ungkap cicit pendiri Alkhairaat itu.

Sebagai mantan aktifis di pusat dan daerah, Habib Sadig lantas mempertanyakan aksi pada Sabtu yang lalu.

“Saya bukan hanya demo di Sulteng. Saya khatam urusan demo begini. Jadi kalau ada demonstrasi sampai dini hari, menutup akses jalan antara provinsi, bahkan menyebabkan korban jiwa, saya patut bertanya, apa agenda sebenarnya di balik demo itu dan siapa pendana-nya?” ujarnya.

Oleh sebab itu, Habib Sadig juga meminta aparat dan pemerintah untuk menelusuri agenda di balik demonstrasi serta mengungkap otak di balik demo yang menyebabkan kematian warga.

“Kematian adalah takdir. Tetapi kita boleh merekonstruksi penyebabnya untuk belajar. Bila demo pada hari Sabtu yang lalu dilaksanakan sesuai aturan, tidak ada korban jiwa.

“Karenanya, saya berharap Polri tidak berhenti pada kasus penembakan. tetapi juga mengungkap pihak-pihak yang berkepentingan di balik kerusuhan aksi masa terkait tambang emas di Parigi Moutong itu,” tegasnya.

Habib Sadig juga merasa heran dengan sikap Gubernur Sulteng H. Rusdy Mastura yang selama ini diketahui tidak alergi untuk menemui masa demonstrasi.

“Jangankan menemui masa demonstrasi, menenangkan kerusuhan saja beliau berani berada di tengah-tengah masa saat terjadi kerusuhan antara Nunu-Tavanjuka beberapa tahun lalu. Yang saya tahu, beliau tidak alergi menemui rakyatnya,” kata sadiq.

Ia pun mencurigai adanya pihak-pihak tertentu yang menghalangi kedatangan Gubernur Rusdy Mastura untuk menemui masa unjuk rasa di Parigi Moutong, seperti yang diinginkan masyarakat yang sedang demo.

“Ini juga harus dicari benang merahnya. Saya rasa curiga sah-sah saja, jangan-jangan ada yang mendesain agar demo itu jadi chaos. Di mana-mana yang namanya demo, ada-ada saja yang jadi provokator,” ungkap Habib Sadig.

“Karena itu, saya berharap aparat kepolisian bukan hanya sebatas mengusut pelaku penembakan, tetapi benar-benar mengusut hingga tuntas termasuk aktor di balik demo yang menimbulkan korban jiwa di Parigi Moutong,” tegasnya. ***