PosRakyat – Husin Alwi, ST, seorang praktisi pemberdayaan masyarakat sekaligus mantan Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Tengah ke-14, Rusdy Mastura, menyampaikan gagasan strategis terkait fokus pemerintahan Gubernur Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido dalam percepatan penanggulangan kemiskinan di Sulawesi Tengah.
Husin, yang pernah menerima Pin Emas dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), atas perannya dalam program Padat Karya dan Program Daerah Pemberdayaan Masyarakat (PDPM) Kota Palu di era Wali Kota Rusdy Mastura, menegaskan bahwa komitmen dan konsistensi merupakan kunci utama yang harus dimiliki pemimpin dan perangkat daerahnya, termasuk organisasi perangkat daerah (OPD).
“Keselarasan dalam kebijakan, anggaran, dan program yang berpihak pada masyarakat miskin (pro-poor policy, pro-poor budgeting, pro-poor programming) akan menjadi indikator utama dalam percepatan penanggulangan kemiskinan,” ujar Husin.
Baca Juga: Tanpa BPJS? Cukup Bawa KTP, Warga Sulteng Bisa Berobat Gratis!
Baca Juga: Gaya Spiritual Anwar Hafid: Pergeseran Paradigma Kepemimpinan
Ia menekankan pentingnya meminimalkan inclusion error dan exclusion error, yakni memastikan bantuan tepat sasaran. “Orang yang berhak harus mendapatkan bantuan, sementara mereka yang tidak berhak tidak boleh menerima. Oleh karena itu, pembaruan data kemiskinan daerah harus menjadi prioritas, termasuk analisis mendalam terhadap dimensi kemiskinan di Sulteng,” tambahnya.
Husin menilai bahwa Sulteng membutuhkan program revolusioner dalam penanggulangan kemiskinan, bukan sekadar pendekatan yang bersifat “rembesan” atau tidak langsung.
“Jika hanya menggunakan strategi yang menyebar tanpa fokus, maka mustahil tingkat kemiskinan di Sulteng bisa turun signifikan hingga di bawah 10%,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia menyoroti keberhasilan Gerakan Palu Zero Poverty 2015, yang melalui program Padat Karya dan PDPM, berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga 7,24%.






