PosRakyat – Dinding penahan tanah di Sungai Tondo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang merupakan bagian dari proyek mitigasi bencana banjir dan sedimen senilai Rp58 miliar, mengalami kerusakan serius meski baru beberapa bulan rampung.
Kerusakan itu diketahui usai hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut, Senin malam (7/7), yang memicu banjir dan menyebabkan revetment (dinding penahan) retak memanjang dan vertikal.
“Bangunan ini baru selesai beberapa bulan lalu, tapi sekarang sudah rusak parah. Semalam sebelumnya hujan deras dan banjir menyebabkan dinding sungai ini mulai runtuh,” ungkap Rei, warga sekitar lokasi.

Baca Juga: Di Hadapan KPK, Gubernur Anwar Hafid Tegaskan Tak Ada Ruang untuk Korupsi di Sulawesi Tengah
Pantauan tim PosRakyat.com, Selasa (8/7), menunjukkan keretakan cukup signifikan di bagian dinding yang berdampingan dengan kawasan Hunian Tetap (Huntap) Tondo. Struktur tersebut terlihat tidak stabil dan terancam ambruk.
Proyek ini berada dalam paket pekerjaan Flood and Sediment Disaster Countermeasures in Relocation Areas in Tondo and Duyu, yang didanai melalui Infrastructure Reconstruction Sector Loan (IRSL) dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pekerjaan fisiknya dikerjakan oleh PT SMS, di bawah kendali Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III Palu.


Menanggapi laporan kerusakan tersebut, Kepala Satuan Kerja SNVT Pelaksana Jaringan Sumber Air (PJSA) BWSS III Palu, Ismaun, mengatakan pihaknya segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan.






