Bank Sulteng Ungkap Rincian CSR, Gaji Direksi dan Jaminan Modal dari Mega Corpora

oleh -
oleh
Direktur Kepatuhan Bank Sulteng, Yudy Koagow (kanan). Foto: Ist

Yudy juga memaparkan performa keuangan Bank Sulteng dalam lima tahun terakhir. Laba bersih Bank Sulteng mengalami tren peningkatan:

  • Tahun 2020: Rp215 miliar
  • Tahun 2021: Rp275 miliar
  • Tahun 2022: Rp310 miliar
  • Tahun 2023: Rp335 miliar
  • Tahun 2024: Rp360 miliar

“Untuk tahun 2025, target laba ditetapkan sebesar Rp400 miliar. Kita berharap tren kenaikan ini terus berlanjut,” ucapnya optimis.

Menjawab pertanyaan soal gaji direksi dan komisaris, Yudy menjelaskan bahwa sejak 2020 hingga 2025 hanya terjadi satu kali kenaikan, yaitu sebesar 10 persen.

“Komponen pendapatan direksi dan komisaris terdiri dari gaji pokok, tunjangan, pajak 30 persen, dan bonus kinerja. Jika dibandingkan dengan bank sejenis dalam Grup Mega Corpora, Bank Sulteng adalah yang paling kecil,” ungkapnya.

Yudy menambahkan, Mega Corpora memberikan jaminan sebesar Rp1,7 triliun untuk memenuhi persyaratan modal minimum bank umum sebesar Rp3 triliun yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jaminan itu bukan dalam bentuk uang tunai agar Mega Corpora tidak menjadi pengendali. Tapi cukup untuk memenuhi syarat permodalan OJK,” jelasnya.

Ia menegaskan, tanpa jaminan dari Mega Corpora, Bank Sulteng berpotensi turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

“Kita harus berterima kasih karena Mega Corpora bersedia menjamin permodalan Bank Sulteng. Jika tidak, Bank Sulteng bisa kehilangan status sebagai bank umum,” pungkas Yudy.