Namun, tantangan masih membayangi. Sebanyak 13,8 persen pasangan usia subur masih belum terpenuhi kebutuhan layanan KB-nya. Wagub menekankan pentingnya perluasan akses serta peningkatan kualitas layanan KB, khususnya melalui posyandu dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.
Menurut data Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK24), terdapat 789.377 keluarga di Sulawesi Tengah dengan 431.185 pasangan usia subur. Sementara itu, pernikahan usia dini masih terjadi, dengan angka 0,73 persen, yang dinilai berisiko terhadap kesehatan reproduksi dan peningkatan angka stunting.
Wagub juga menyoroti prevalensi stunting yang meski mengalami penurunan, masih berada di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data terakhir, angka stunting di Sulteng turun dari 28,2 persen pada 2022 menjadi 26,1 persen pada 2024. Namun angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang kini berada di 19,8 persen.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara sektoral. Ini adalah kerja kolektif yang harus melibatkan pemerintah, DPRD, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, dan terutama keluarga,” tegasnya.






