Sahir menegaskan bahwa kehadiran narasumber dengan pandangan berbeda justru menjadi kekuatan dalam diskusi ini. Menurutnya, dinamika yang terbuka adalah cara sehat untuk menumbuhkan kesadaran demokrasi di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
“Kami tidak hanya mengundang mereka yang sepakat, tetapi juga yang memiliki pandangan berbeda. Ini penting agar diskusi berjalan dinamis dan menyajikan berbagai perspektif,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan kritik tajam terhadap praktik pemerintahan yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai demokrasi.
“Kalau kita terus menunggu, sampai kapan pemerintah membodohi kita? Mereka mengubah UUD tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat. Jadi, sekaranglah waktu yang tepat untuk menyuarakan pendapat melalui forum ini,” tegas Sahir.
Sahir menyampaikan harapannya agar forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi pemantik kesadaran kritis terhadap arah demokrasi Indonesia.
“Harapan saya, semoga para tamu yang hadir bisa memahami bagaimana eksistensi demokrasi hari ini dan mendapatkan pembelajaran dari diskusi ini,” tutupnya.






