Direktur Yayasan Donggala Heritage Tolak Penebangan Pohon Bersejarah dalam Proyek Revitaliusasi Taman Tugu Adipura

oleh -
oleh
Pohon palem atau kelapa Belanda di Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Banawa, rencana akan ditebang oleh Pemerintah Donggala. Foto: IST

“Itu satu kebanggaan dan menjadi memori kolektif bangsa yang membuktikan bahwa bangsa Indonesia, termasuk Donggala itu pernah dijajah bangsa Belanda. Itu dibuktikan masih adanya penanda yang tersisa, sehingga dapat menjadi pelajaran bagi generasi masa kini dan mendatang,” terangnya.

Ia berharap, pohon yang bernilai sejarah itu tidak ditebang dan seharusnya dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak punah.

Untuk mempercantik kota lanjut dia, tidak mesti menghancurkan yang lama dan membangun yang baru, apalagi kalau alasannya di lokasi akan dibangun videotron.

“Harusnya videotron yang mengalah dengan mencari lokasi di tempat lain yang tidak mengorbankan sebuah identitas,” harapnya.

Selain itu, rencana pembangunan vidiotron itu dinilai tidak tepat karena berhadapan dengan jembatan dan berada disimpang jalan yang bisa menimbulkan kemacetan.

“Bagaimana para pengendara mau menikmati isi videotron di saat situasi jalan yang memungkinkan macet dan jalur di depannya ada jembatan, bisa saja terjadi masalah. Sekali lagi ini harus dipertimbangkan,” pintanya.

“Sekali lagi saya atas nama Donggala Heritage meminta Pemkab Donggala agar tidak menebang pohon sekalipun satu pohon peninggalan Belanda itu, kalau saja mau merevitalisasi taman lebih baik lagi, itu tidak ada masalah. Tetapi jangan mengorbankan tanaman yang menjadi penanda sejarah kota,” tutup Zulkifly Pagessa.