Donggala Kaya Kelapa, Minyak Goreng Langka

Redaksi
Potensi kekayaan tanaman kelapa di kabupaten Donggala. Foto: Ist
A-AA+A++

PosRakyat – Seyogianya masyarakat Kabupaten Donggala tidak ikut merasakan dampak kelangkaan minyak goreng beberapa waktu lalu. Sebab secara realitas Kabupaten Donggala dikenal sebagai negeri penghasil kelapa dalam sejak ratusan tahun silam sampai sekarang masih cukup besar produksinya. Toh, kenyataannya masyarakat tetap kesulitan mendapatkan minyak goring, termasuk di perdesaan.

“Padahal sebagai alternatif, terutama penduduk yang ada di pedesaan bisa membuat minyak kelapa sendiri karena untuk empat atau lima bijih kelapa bisa menghasilkan satu liter minyak olahan sendiri,” kata Abdul Rasyid Thalib salah satu tokoh masyarakat Donggala, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, jenis kelapa dalam yang berada di pesisir itu jauh lebih banyak menghasilkan minyak dibanding kepala yang berada di daratan tinggi. Karena itu mestinya adanya tanaman kelapa cukup banyak pedesan dapat dijadikan alternatif disaat minyak kemasan sedang langka, apalagi bahan baku untuk minyak kelapa mudah didapat dan hasilnya lebih wangi.

Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabuaten Donggala, saat ini tanaman kelapa yang tersebar di wilayah Donggala cukup luas dengan produksi cukup banyak. Luasnya mencapai 28.124 hektare, diantara luas tersebut hanya ada 1.803 hektare yang tidak menghasilkan produksi atau rusak. Namun demikian hasil produksi masih cukup besar mencapai 33.084.585 kilogram dalam setahun panen.

Menanggapi kelangkaan pembuatan minyak produksi kelapa dalam menurut Kasubag Program Dinas TPHP Kabupaten Donggala, Ishak Nazaruddin, tidak lepas dari berubahnya sikap petani, ada kecenderungan petani dalam pemasaran produksi. “Bahkan belakangan ini banyak petani kelapa yang lebih senang menjual kelapa bijih dengan cara cungkil babi atau mengeluarkan sabuk sebagian untuk dijual pada pengumpul ketimbang membuat kopra,” kata Ishak belum lama ini.

Petani kepala jarang membuat minyak goreng dan kopra, melainkan langsung menjual karena selain cepat menghasilkan uang, juga tidak butuh waktu lama berproses. Secara ekonomi sebetulnya harga kopra lebih tinggi dibanding jual bijih kelapa, cuma saja sebagian petani ingin praktis. Padahal bagi pengumpul bijih kelapa keuntungannya lebih besar dari pada petani, karena diperdagangkan ke Surabaya. Di sana produsen akan mendapat keuntungan besar pula selain daging kelapa juga mendapat tempurung untuk bahan bakar dan lainnya.

Sebaran kebun kepala dalam di wilayah Kabupaten Donggala saat ini terdapat di seluruh kecamatan. Terbanyak berada pada lima kecamatan, masing-masing Balaesang dengan jumlah luas 6.896 hektare, disusul Sojol dengan luas 3.675 hektare, Dampelas seluas 3.010 hektare, Sindue seluas 2.266 hektare dan Sirenja memiliki luas 1.826 hektare. Sedangkan kecamatan lainnya berkisar ratusan hektar saja, kecuali Pinembani hanya puluhan hektar.
Adapun jumlah petani atau pemilik kelapa di seluruh Kabupaten Donggala sebanyak 12.486 orang, menunjukkan kalau kelapa menjadi salah satu sumber utama perkebunan masyarakat Donggala.***

Penulis: JAMRIN AB