Ia juga menyoroti peran besar Guru Tua dalam dunia pendidikan. Tanpa bantuan APBD, Guru Tua berhasil mendirikan lebih dari 400 madrasah di berbagai wilayah. Hal ini sebagai bukti nyata dedikasi dan visi besar seorang pendidik sejati.
“Kalau Guru Tua bisa mendirikan ratusan madrasah sendiri, bagaimana dengan kita yang memiliki kewenangan dan anggaran?” katanya, menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam mendukung pendidikan keagamaan.
Anwar juga menyinggung program unggulan yang akan diluncurkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, bertepatan dengan HUT Provinsi pada 13 April 2025. Program tersebut dinamai “Berani Cerdas”, yang akan memberikan beasiswa kepada 35.000 mahasiswa asal Sulawesi Tengah untuk kuliah di seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, Pemprov juga akan membebaskan semua biaya pendidikan di tingkat SMA/SMK, termasuk biaya prakerin dan uji kompetensi. Bahkan sekolah swasta pun akan menerima dana BOS Daerah sebagai bentuk komitmen pendidikan yang merata. “Kami tidak ingin ada alasan lagi bagi orang tua untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya,” tegas Anwar.
Ia juga mengajak seluruh kepala daerah dan masyarakat untuk bersama-sama membantu pengembangan madrasah, termasuk dalam hal menggaji para guru madrasah yang selama ini minim perhatian. “Kalau madrasah ditinggalkan, kita telah meninggalkan warisan Guru Tua. Mari kita tanggung bersama, jangan hanya pemerintah,” ujarnya.

Anwar juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu yang datang dengan sukarela, tanpa bantuan logistik atau biaya perjalanan. “Tidak ada yang datang karena uang, semua datang karena cinta pada Guru Tua,” ucapnya bangga.
Sebelum menutup pidatonya, Anwar Hafid menyatakan dukungan penuh terhadap Habib Idrus Bin Salim Aljufri agar diangkat sebagai pahlawan nasional, karena mengingat jasa beliu yang besar bagi bangsa dan umat Islam di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan.
“Guru Tua bukan tokoh biasa. Beliau adalah aset bangsa. Sudah saatnya beliau diakui sebagai pahlawan nasional,” tutupnya.

(ZF)






