PosRakyat – Direktur Lalulintas (Dirlantas) Polda Sulteng, Kombes Pol. Dodi Darjanto, diduga telah melecehkan jurnalis SCTV, Syamsuddin Tobone, hanya karena menggunakan ponsel saat hendak melakukan wawancara.
Insiden tersebut menimbulkan reaksi dari insan pers di Palu, dimana yang dilakukan oleh Kombes Pol. Dodi Darjanto, tidak profesional dan merendahkan kerja-kerja jurnalis yang sering kali bekerja dengan berbagai alat, termasuk ponsel.
Menanggapi hal ini, Ketua Forum Pimred SMSI Sulteng, Andrew Wattimena menegaskan bahwa wartawan dalam menjalankan tugas dan fungsinya boleh menggunakan ponsel. Itu tidak ada larangan sama sekali.
”Tugas wartawan itu mengambil gambar atau video untuk kepentingan publik. Institusi mestinya mengerti bahwa wartawan bekerja dilindungi undang-undang, jadi jangan dibatasi,” terang Andrew.
“Kami meminta pihak Polda Sulteng mengklarifikasi hal ini dan memberi sanksi kepada yang bersangkutan, kejadian ini pula sudah di bahas di Forum Pimred SMSI yang tersebar di 38 Provinsi ” tegas Andrew.
Sebelumnya, Syamsuddin Tobone, yang juga merupakan Kepala Biro SCTV Palu, menjelaskan kronologi kejadian penolakan wawancara tersebut.
“Saya sudah janji mau wawancara dari kemarin lewat asprinya. Akhirnya tadi pagi pak Dir bersedia jam 08.30 WITA di Tugu 0. Setelah apel, saya bertemu beliau untuk memulai wawancara. Saya pakai seragam SCTV, rapi. Setelah salam dan kenalan, saya mau mulai merekam. Dia langsung berkata, ‘Kenapa merekam wawancara pakai HP? Saya tidak mau. Masak wawancara pakai HP, HP merek Cina lagi. Suruh direkturmu belikan HP yang canggih,” ujar Syamsuddin.
Syamsuddin menjelaskan bahwa ia mencoba memberi tahu Kombes Pol Dodi Darjanto bahwa teknologi saat ini memungkinkan pengambilan gambar yang berkualitas tinggi menggunakan ponsel. Namun, penjelasannya tidak diterima dengan baik.
“Sampai anak buahnya, anggota Lantas Polda, datang dan membisikkan kepada saya, bilang sudah, tidak usah dibantah,” tambahnya.***



