Longsor Gunung Pascagempa Sigi Sisakan Trauma, PSI Peduli Bantu Warga Bangkit

oleh -11 views
oleh
Tampak gunung di Sigi mengalami longsoran pasca gempa. FOTO: IST

Suasana hangat terlihat saat relawan berinteraksi dengan anak-anak di lokasi pengungsian. Tawa yang sempat hilang akibat bencana mulai kembali terdengar.

Kegiatan menggambar, bermain bersama, hingga sesi motivasi menjadi bagian dari upaya pemulihan psikologis yang dilakukan relawan.

Koordinator Relawan PSI Peduli, Moh Maskur, mengatakan pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi fisik maupun mental masyarakat.

“Ketika bencana terjadi, yang rusak bukan hanya rumah dan fasilitas umum. Ada trauma yang dirasakan masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu kami hadir tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan pendampingan agar mereka kembali memiliki semangat dan harapan,” ujarnya.

Kehadiran dapur umum juga mendapat sambutan positif dari warga. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, keberadaan dapur umum dinilai meringankan beban keluarga yang masih fokus membersihkan rumah dan lingkungan pascabencana.

Sejumlah warga mengapresiasi DPW PSI Sulteng yang hadir membantu masyarakat sejak hari pertama pascagempa.

Menurut warga, perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam masa pemulihan.

“Kami bersyukur ada PSI yang datang membantu. Anak-anak yang sebelumnya murung sekarang mulai kembali ceria setelah mengikuti kegiatan trauma healing. Ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

Meski demikian, warga berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera berjalan agar kehidupan masyarakat kembali normal.

Selain perbaikan rumah yang rusak, pendampingan psikososial juga diharapkan terus berlanjut hingga kondisi mental warga benar-benar pulih.

Bencana gempa dan longsor yang melanda Desa Lembantongoa menjadi ujian berat bagi masyarakat.

Namun, di balik duka dan trauma yang ditinggalkan, kehadiran Posko PSI Peduli menjadi sumber kekuatan bagi warga untuk bangkit.

Di tengah lereng gunung yang longsor dan rumah-rumah yang rusak, senyum anak-anak yang mulai kembali merekah menjadi tanda bahwa harapan masih tumbuh di Lembantongoa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *