Peran komunitas, bagi Habib Sadig, tidak dapat diremehkan dalam penyelesaian problem sampah. Dalam hal ini, ia mencontohkan bagaimana salah satu komunitas binaannya di Kelurahan Silae kini mengolah 1 ton sampah basah per hari.
“Inisiatif seperti yang dilakukan oleh teman-teman di Taman Ria Silae adalah contoh konkret bahwa komunitas dapat berperan aktif. Komunitas yang lainnya juga sama. Cakupan ini sangat mungkin diperluas dengan intervensi pemerintah yang bekerja lewat tangan-tangan komunitas,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Habib Sadig berharap agar Walikota Palu mengubah pola penanganan sampah yang hanya mengulang-ulang model kebijakan sebelumnya yang sudah terbukti gagal.
“Pemkot sebelum Pak Hadianto bahkan belajar penanganan sampah ke Eropa, tapi apa hasilnya? Jadi, sudahlah. Model lama yang penuh formalitas khas birokrasi itu kita hentikan saja, karena tidak efektif,” imbuhnya.
Menutup perbincangannya, Habib Sadig yakin bahwa ide untuk mengedukasi warga lewat komunitas dapat diterima oleh Walikota Palu.
“Saya yakin ide edukasi warga dalam penanganan sampah dapat diterima oleh Walikota. Sebagai pemimpin berlatar belakang santri, beliau pasti paham betul bahwa hulu dari semua persoalan sosial berada di dalam kesadaran warga di mana hal ini dapat diperbaiki lewat edukasi dan pendekatan non formal, dari bawah, lewat komunitas,” pungkasnya.***






