Tidak hanya itu, Paslon Rachmansyah-Harsono juga berencana membangun dusun mandiri dengan anggaran Rp100 juta hingga Rp300 juta per dusun per tahun. “InshaAllah, ini semua bertujuan untuk mempertahankan transformasi ekonomi dan memastikan pelaku ekonomi kecil dapat berkembang di tengah masuknya investasi besar,” tambah mantan Kepala Dinas ESDM Sulawesi Tengah ini.
Pasangan ini juga menunjukkan kepedulian terhadap masalah kemiskinan yang masih tinggi di Morowali. Menurut Harsono Lamusa, salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan adalah kebijakan pemerintah daerah yang mengharuskan pendatang mencatatkan diri sebagai penduduk Morowali. Banyak pendatang yang datang untuk mencari pekerjaan, namun jika tidak berhasil mendapatkan pekerjaan, mereka tercatat sebagai warga miskin di Morowali.
“Pendatang yang menganggur akan tercatat sebagai warga miskin di sini. Untuk mengurangi angka kemiskinan, kebijakan tersebut perlu diubah agar pendatang yang belum bekerja tidak tercatat sebagai warga miskin di Bumi Tepe Asa Moroso,” ungkap Harsono.
Kehadiran Rachmansyah-Harsono dalam debat ini dinilai sempurna. Mereka menguasai panggung dan mampu memberikan jawaban yang komprehensif, dari segmen awal hingga akhir, menunjukkan bahwa mereka siap memimpin Morowali menuju perubahan yang lebih baik.






