Pertama, pertumbuhan ekonomi kita 11 persen di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional menyerap lapangan kerja kita sekitar 150.000 angkatan kerja.
“Mengapa ini penting? saudara perlu tahu pertumbuhan ekonomi adalah tolok ukur kesejahteraan. Tanpa pertumbuhan, artinya tidak ada investasi; tanpa investasi artinya tidak ada lapangan kerja; tanpa lapangan kerja, tidak ada penghasilan; tanpa penghasilan, orang tidak bisa membeli makanan; tanpa makanan kita mati. begitulah hukum pertumbuhan,” jelas Rusdy Matura yang juga mantan Wali Kota Palu dua periode ini.
Kedua, pendapatan asli daerah kita meningkat dari Rp900 miliar tahun 2020, kini sudah mencapai Rp2,058 Triliun. Capaian ini, yang tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Sulawesi Tengah.
Peningkatan PAD ini yang memungkinkan kita, menyelesaikan masalah lahan hunian tetap bagi pengungsi, pembangunan Masjid Agung, 10 ruas jalan provinsi, 150 kilometer jalan produksi usaha tani, normalisasi puluhan sungai langganan banjir, bantuan stimulus bagi warga miskin ekstrim, alat-alat pertanian.
Ketiga, saat ini kita tengah fokus pada riset dan inovasi. Saat ini Pemprov Sulteng sudah memiliki temuan, inseminasi buatan sapi dan transfer embrio (semen sperma) sapi Wagiu pada indukan sapi Donggala. Temuan ini sudah dicanangkan sebagai program unggulan 1 ton daging 2027.
Keempat, Sulteng sebagai daerah yang berhasil membangun kerangka dua medan pasar. Yaitu, pasar yang tumbuh di kawasan manufaktur mineral logam di timur; dan pasar ibu kota nusantara atau IKN.
Dua pasar ini belum sepenuhnya bisa dimaksimalkan karena terkait dengan aksesibilitas dan infrastruktur.
“Tetapi alhamdulillah, Presiden Jokowi telah menyetujui kita sebagai daerah penyangga IKN,” ujarnya.
Bung Cudy mengakui sedang berjuang untuk penerbitan Keputusan Presiden tentang penyangga IKN.
Tujuannya, Sulteng butuh anggaran yang sangat besar, untuk membangun infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan dan sistem pergudangan.***






