Samsurizal Tombolotutu Imbau Warga Parimo Hindari Cagub yang Tak Punya Tata Krama

oleh -
oleh
Mantan Bupati Kabupaten Parimo, Samsurizal Tombolotutu, (tengah) memberikan keterangan terkait sikap salah satu Cagub Sulteng yang dinilai sudah merendahkan dirinya. (Foto: Media Alkhairaat)

PosRakyat – Mantan Bupati Parigi Moutong dua periode, Samsurizal Tombolotutu, mengimbau masyarakat agar tidak memilih calon gubernur yang suka menghina dan tidak memiliki tata krama. Pernyataan ini disampaikannya setelah video orasi salah satu bakal calon gubernur (Bacagub) beredar luas, di mana Bacagub tersebut secara terbuka meneriaki Samsurizal di hadapan warga Kotaraya, Kecamatan Mepanga, pekan lalu.

“Saya, Kolonel Purnawirawan TNI AD H. Samsurizal Tombolotutu, selama ini memilih diam dan tidak memberikan komentar terkait calon gubernur Sulawesi Tengah maupun calon bupati Kabupaten Parimo. Namun, karena usikan ini, saya harus berbicara dan menyatakan sikap bahwa pada pemilihan gubernur, saya akan memilih pribumi, Sangganipa, yakni Rusdy Mastura atau Cudy, yang berpasangan dengan Sulaiman Agusto Hambuako,” ujar Samsurizal saat diwawancarai di kediamannya di Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Minggu (15/9/2024).

Baca Juga: Deklarasi Anwar Hafid-Reny Lamadjido di Tinombo Selatan Meriah, Dihadiri Artis Ibukota dan Ribuan Warga

Baca Juga: Gubernur Rusdy Mastura dan Istri Hadiri Pembukaan PON XXI, Optimis Sulteng Raih Medali Emas

Samsurizal mengungkapkan rasa kecewanya karena merasa dipermalukan di depan publik oleh salah satu Bacagub. Ia menilai sikap tersebut menunjukkan rendahnya kapasitas Bacagub tersebut, yang tidak memiliki prestasi maupun penghargaan terhadap orang lain.

“Saya ini mantan Bupati Parimo yang 10 tahun memimpin dan juga cucu Pahlawan Nasional. Tidak perlu kamu teriaki saya, apalagi di depan umum. Mana sopan santunnya? Jangan mencari pencitraan dengan menginjak-injak perasaan orang. Saya pernah berjasa untuk Kabupaten Parimo,” tegasnya.

Ia juga mengakui bahwa dirinya sebenarnya sudah tidak tertarik terlibat dalam politik, namun tetap merasa perlu bersuara jika ada pihak yang merendahkannya.

“Sebenarnya saya ingin fokus pada kesehatan dan keluarga. Tapi jangan hina saya! Sepuluh tahun saya memimpin, tapi calon gubernur ini tidak paham adat istiadat dan budaya pribumi,” kata Samsurizal.