Tragedi di Tambang Emas Poboya

oleh -
oleh
Lokasi tambang emas tanpa izin (PETI) Vatutempa di kelurahan Poboya, Palu. Foto: Ist

Ironisnya, hanya beberapa pekan sebelumnya, tepatnya Selasa pagi (3/6), tragedi lain juga terjadi di kawasan PETI Kijang 30, yang masih berada di wilayah Poboya. Sekitar pukul 06.30 Wita, longsor tiba-tiba menerjang lokasi penambangan yang kala itu dipenuhi sekitar 30 penambang.

Dua orang meninggal dunia dalam insiden itu. Salah satunya adalah Andri, warga Desa Palolo, Kabupaten Sigi, yang belakangan menetap di Kelurahan Lasoani, Palu. Ia tewas tertimpa batu besar saat sedang beristirahat di mulut lubang tambang. Satu korban lainnya berasal dari Gorontalo, dan menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Tragedi demi tragedi ini menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan aktivitas tambang ilegal di Poboya akan terus merenggut nyawa dan mengabaikan keselamatan?

Masyarakat sekitar dan para pekerja tambang ilegal seolah hidup dalam ketidakpastian – terjebak antara kebutuhan ekonomi dan ancaman keselamatan. Di balik kilaunya emas, tersimpan bahaya yang siap merenggut nyawa kapan saja.