Sementara, Koordinator aksi, Burhan Bidu, dalam keterangannya kepada wartawan, bahwa pihaknya mendesak pemerintah desa hingga gubernur Sulawesi Tengah untuk menutup tambang galian c yang sudah ada, serta tidak lagi memberi izin tambang sejenisnya di wilayah tersebut karena dampak buruk yang ditimbulkan terhadap petani.
“Kami masyarakat Bou minta tambang yang sudah beroperasi ditutup. Kami juga menolak tambang galian C yang baru. Dampak yang dihasilkan sekitar ribuan (pohon) kelapa jatuh ke sungai, meminta perusahaan untuk segera mengganti rugi,” katanya kepada wartawan, Selasa, 17 Desember 2024, dikutip dari Detak News.
“Kami masyarakat juga meminta galian C ditutup sementara sampai kami dipertemukan dari pihak perusahaan dan pemerintah setempat,” pintanya.
Dikatakan Burhan, bahwa aksi warga bukan hanya kali ini saja. Namun sebelum itu para petani sudah melakukan unjuk rasa di depan kantor Desa Bou, tapi kata dia tidak mendapatkan tanggapan sama sekali dari pemerintah Desa dan Kecamatan. “Kami sudah dua kali turun aksi, tidak pernah ada ketemu, dengan Kades dan Camat,” sesalnya.
Keberadaan tambang galian C di desa Bou tambah Burhan, sudah sangat merusak lingkungan sungai terlebih lahan pertanian produktif milik warga. “Kami berharap pemerintah dapat mendengar aspirasi masyarakat petani desa Bou dan beberapa desa lainnya yang terdampak dengan aktivitas galian C tersebut,” harapnya.






