“Selain itu, kami mengirimkan bantuan logistik berupa bahan makanan dan kebutuhan hidup para penyintas bencana di titik-titik pengungsian,” ujarnya.
Sementara, Koordinator Program Community Development untuk Palu, Sigi dan Donggala, Endang Mariani mengatakan pentingnya dukungan psikososial terhadap korban bencana Sulteng. Dukungan bantuan ini memang menekankan bantuan prioritas seperti huntara, sekolah darurat.
Bagi dia, korban bencana di Sulteng ada masyarakat kelompok rentan seperti anak-anak dan balita, ibu hamil, orang tua dan para penyandang disabilitas.
“Mengacu pada prinsip-prinsip dasar yang utamanya memberikan rasa tenang, aman dan nyaman pada para penyintas bencana, setelah mereka mengalami kejadian traumatis,” tutur Endang.
Adapun merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu 20 Oktober 2018, tercatat sudah 2.113 korban meninggal dunia akibat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Selain itu, tercatat sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik. [****]
Sumber; Viva






