BONGKAR DAN RUBAH DKST

oleh -
oleh
Halim HD

Oleh: Halim HD. – Networker Kebudayaan


Mari kita bicarakan lebih jauh dan mendalam masalah posisi-fungsi Dewan Kesenian Sulawesi Tengah (DKST), dengan pikiran tenang dan jauhkan dari rasa marah. Saya tahu ada banyak orang yang kebakaran jenggot dengan tulisan saya. Tentang DKST yang selama ini dikelola oleh rezim yang itu itu saja. Tapi, para oknum itu, sebaiknya berhadapan dengan cermin, lakukan otokritik, dan kembangkan self criticism sebagai bagian dari proses pemahaman diri. Melalui upaya memahami diri itulah mungkin bisa menengok jejak-jejak praktek berkesenian yang pernah ada, sambil merenungi apa makna semuanya itu.

Dalam merenunghi dan melakukan otokritik tentang kelembagaan yang ada serta apa yang pernah dilakukan oleh pengurus DKST itulah kita bisa melacak soal-soal yang pernah terjadi, sambil kita juga memandang ke depan. Kehidupan dalam segi kebudayaan khususnya kesenian mengalami perubahan drastic dalam dua-tiga dekade terakhir ini. Perubahan itu juga terjadi diluar lingkungan kesenian namun tetap berkaitan, misalnya di dalam praktek politik, ekonomi dan berbagai hal lainnya. Kait mengait ini sangat perlu diperhatikan, sebagai interaksi dari soal-soal yang kita hadapi keseharian. Memandang kesenian, kebudayaan dan merenungi kehidupan keseharian kita menyaksikan kerusakan lingkungan hidup, aspek ekologis yang rusak dampak politik pembangunan yang tak menimbang ekosistem lingkungan hidup. Sementara itu sistem pendidikan mengalami gonjang ganjing dan makna pendidikan kian merosot, ditambah lagi dengan rusaknya relasi personal dan sosial did alam pendidikan di mana terjadi obyektifikasi anak didik kearah dehumanisasi.

Di sisi lainnya kita menyaksikan dan merasakan konflik sosial dampak dari bukan hanya karena rasa keadilan yang kian kasat mata, jurang ekonomi yang menganga, ditimpali oleh tingkah laku praktek politisi yang kebanyakan jauh dari harapan kita. Banyak masalah-masalah yang mendasar dan jika tak dilihat secara jernih akan membuat kita berada ditubir jurang peradaban. Dalam kondisi seperti sekarang ini, masihkah DKJT berpikir tentang perlunya gedung sekretariat? Untuk apakah gedung itu? Sementara kerja kepengurusan DKST tak pernah bisa dinilai secara positif. Tak adakah cara berpikir dan sudut pandang lain yang mendasar berkaitan dengan posisi-fungsi DKST?