“Adit bisik tadi saya barusan. Digital merubah kita banyak hal. Dari tim tadi menyampaikan sudah ada yang beli. Jadi ibu yang tenun, insya Allah sudah laku,” ungkapnya.
Rahmad menegaskan, kerja – kerja Kadin Donggala tidak hanya main gimmick tetapi sesuatu yang bisa ril untuk kepentingan rakyat dan kejayaan Kabupaten Donggala yang mempunyai sejarah panjang sebagai salah satu kota niaga di Nusantara pada masa lampau.
Ia menjelaskan, untuk membangkitkan kejayaan Donggala salah satunya adalah membawa Sarung Donggala ke pasar digital. Sarung Donggala tidak lagi dijual murah, tetapi dengan angka Rp 3.500.000. Kenapa dijual mahal, supaya para penenun, utamanya tenun godokan mendapat kesejahteraan bukan hanya sekedar menenun, namun mereka harus hidup di atas rata – rata.
“Makanya kami konsen untuk melakukan pembenahan itu. Pasar, selain pasar kita juga buat sistem track market berkeadilan. Itu yang kita dorong,” jelas Rahmad.
Selain itu, lanjut dia, di Bukapalak, story Sarung Donggala juga disiapkan dan ditampilkan di laman Bangga Buatan Indonesia (BBI). Kemudian di laman tersebut ditampilkan pula cerita mengenai sejarah Sarung Donggala. ***
Penulis: Bob






