“Yang pasti bagi jamaah Masjid Raya Donggala itu, bulan Ramadan identik dengan peca. Begitu pula sebaliknya memasuki Ramada, pasti ada peca khas Donggala,”kata seorang jamaah.
Peca, sebetulnya adalah bubur santan biasa. Dimasak secara sederhana memakai tungku api di dalam belanga besar. Terbuat dari beras berkualitas terbaik dicampur santan kelapa pilihan yang dicukur kulit arinya, kemudian dicampur garam secukupnya.
Beras yang sudah dibersihkan kemudian dimasak selama beberapa jam dan terus diaduk dengan saji jangan sampai bagian bawah hangus. Kalau hangus bisa menimbulkan rasa yang beda dengan lazimnya.
Soal kapan dimulai tradisi masak peca, tidak diketahui pasti. Namun menurut Abdul Rauf Thalib (73 tahun), diperkirakan tradisi itu sudah ada jauh sebelum peristiwa Permesta tahun 1958. Sebab menurutnya, sejak masih kecil, pembuatan peca di Masjid Raya Donggala sudah ada. Dulu, dibuat oleh pengurus masjid yang biasa disebut Pua Katte dan Pua Doja.
Cuma saja sejak beberapa tahun terakhir ini, peca tidak lagi dibuat di Masjid Raya, melainkan di sebuah tempat masih kerabat mantan pegawai sarah masjid. Setiap sore sekitar 16.30 menu itu dijemput untuk dibawa ke masjid, selanjutnya ditakar ke mangkok yang sudah tersedia.***
(JAMRIN AB)






