Oleh: Zulkifly Pagessa – Direktur Donggala Heritage
Buya Subi hanyalah salah satu varian motif dari Buya Sabe yang lebih dikenal dengan sebutan Sarung Donggala. Motif Buya Subi ini berbentuk belah ketupat dan pada badan kain dihiasi dengan motif tanaman bunga yang dibuat seolah menjalar.
Sejak tahun 2015, Buya Sabe atau Tenun Donggala telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Dalam beberapa risalah historis, kain tenunan yang berasal dari Donggala ini telah menjadi wastra kebanggaan sejak masa pemerintahan I Sabida, salah satu dari lima raja perempuan Kerajaan Banawa yang berkuasa pada tahun 1758 s/d 1800 Masehi.
Pada tanggal 7 Juli 2026, sebuah perayaan bagi tenunan khas Donggala digelar di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Perayaan yang bertajuk Festival Buya Subi 2026 ini diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah yang berkolaborasi dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA) yang merupakan bagian dari Buya Subi Project. Tentu saja perayaan ini adalah langkah maju bagi pelestarian dan pemajuan warisan budaya Tenun Donggala atau Buya Sabe.
Beberapa waktu yang lalu, perayaan bagi Tenun Donggala ini juga telah digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala yang bertajuk Festival Tenun Donggala. Namun sayang, festival yang telah berlangsung dua tahun berturut-turut pada tahun 2022 dan 2023 itu tidak lagi dilaksanakan di tahun berikutnya.
Program pengembangan Tenun Donggala ini telah dilakukan oleh Bank Indonesia sejak tahun 2019 dan 2020 dengan membangun 5 unit Sou Pontanu dan sebuah Galeri Tenun di Desa Towale serta mencanangkan Desa Towale menjadi Desa Tenun. Di Sou Pontanu yang berukuran 3 x 4 m ini 2 hingga 3 orang penenun memproduksi tenunan mereka. Program ini adalah bagian dari pembangunan industri budaya Tenun Donggala yang berbasis pada komunitas tenun.
Mendukung hal itu, para penenun yang masih bekerja secara terpisah dan tidak terorganisir tersebut kemudian di wadahi oleh sebuah organisasi tenun yang diberi nama Yamamore. Organisasi para penenun Desa Towale ini menjadi motor utama dari tumbuh dan berkembangnya industri budaya Tenun Donggala. Seiring dengan hal itu, Pemerintah Kabupaten Donggala juga menginisiasi Desa Towale menjadi Desa Wisata. Pada titik ini, pemajuan kebudayaan melalui industri budaya seharusnya bertemu dan berjalan berdampingan dengan industri pariwisata dan industri kreatif yang berbasis pada masyarakat lokal.
Industri Budaya dan Ekonomi Kreatif
Di Indonesia saat ini, pengelolaan kebudayaan, pariwisata dan ekonomi kreatif secara kelembagaan terpisah dalam tiga kementerian yang berbeda. Praktik birokrasi yang sama juga terjadi pula pada birokrasi OPD di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Hal ini mengakibatkan sebuah kawasan atau wilayah seperti halnya Desa Towale seakan “dikeroyok” oleh berbagai program dan projek yang tujuan dan fokusnya berbeda satu dengan lainnya. Masyarakat yang cenderung hanya menjadi objek dari berbagai program dan projek tersebut akhirnya disibukkan oleh berbagai seremoni dan event.

