Lanjut Ahmadi, selain aktivitas alat berat, kondisi tanah yang labil di wilayah itu juga memperparah risiko kerusakan infrastruktur. Beberapa warga lain juga menyampaikan kekhawatiran serupa, mengingat area tersebut menjadi jalur utama aliran air dan berada di kawasan yang cukup vital.
Hingga berita ini diturunkan, tim media ini sudah berupaya mengkonfirmasi kepada pihak pelaksana proyek, yakni PT Selaras Mandiri Sejahtera (SMS), belum membuahkan hasil. Pesan yang dikirimkan kepada Anang Wododo, ST, selaku penanggung jawab proyek tersebut, telah terbaca namun belum dibalas. Beberapa kali panggilan telepon juga tidak direspons.
Proyek ini sendiri merupakan bagian dari kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), dengan fokus utama pada penanggulangan bencana dan perbaikan sistem drainase pasca-tsunami 2018.
Meski tujuan proyek dinilai penting, warga berharap pelaksanaannya tetap memperhatikan dampak lingkungan dan keselamatan infrastruktur sekitar. “Jangan sampai niat baik menanggulangi bencana malah menciptakan potensi bencana baru,” pungkas Ahmadi.
(ZF)






