Gelagat Kongkalikong Penerimaan Tenaga Fasilitator di Balai P2P Wilayah II Sulteng

oleh -
oleh
Salah seorang peserta fasilitator yang tidak lulus, Fahrudin memberikan keterangan pers, Kamis.

Peserta lanjut Fahrudin dapat langsung mengetahui lolos tidaknya peserta, rekrutmen seperti ini yang patut dicontoh.

Ia berharap, ke depan rekrutmen benar-benar tranparansi.

“Ini sudah 2 kali dalam 2 tahun terakhir sangat sangat tidak profesional dalam melakukan rekrutmen,” tegasnya.

Ia mengaku keluhan ini bukan hanya dari dirinya seorang, tapi mewakili para peserta yang ikut tes.

Di mana ada ratusan orang peserta lainnya yang mengaku kecewa dengan sistem rekrutmen di Balai P2P.

“Sekitar 300 lebih teman-teman tidak lolos dengan metode seleksi ujian online yang tidak profesional,” katanya.

Selain itu, ia juga mengaku pernah menjadi koordinator sejak 2016-2018.

Kemudian tahun 2019 ia ditarik ke konsultan individu masih program yang sama BSPS.

Ia membeberkan, berdasarkan pengalamannya, rekrutmen tenaga fasilitator apalagi menjadi koordinator punya pengalaman kerja minimal 2 tahun.

“Atas nama, 1. Zenit, ST, 2. Andi mu’min, ST, 3. Dwi Sarwoto, 4. Lukman Adhi Wibowo, ST, 5. Rio, dan Bernandus ST. Mereka ini punya pengalaman menjadi kordinator,” ungkapnya.

Yang menjadi pertanyaan lagi, tuturnya, apakah nama-nama yang lolos tes itu mempunyai pengalaman kerja 2 tahun, paling lama 3 tahu atau 36 bulan.

Sementara pihak Balai P2P, melalui Kepala Seksi, Dina Rahmatu yang dikonfirmasi selaku Ketua Panitia Seleksi enggan membalas pesan dan malah menghapus pesan konfirmasi tersebut.***
(Tim)