Sementara itu Direktur Musik, Film dan Animasi Kemenparkeraf RI, Mohammad Amin Abdullah, menjelaskan tentang kemampuan Hasan Bahasyuan dalam menciptakan karya melalui kakula kreasi dengan karatkter yang luar biasa.”Kalau sebelumnya kakula merupakan alat music yang penggunaannya tebatas pada acara adat tertentu, tapi di tangan Hasan Bahasyuan bisa diubah menjadi alat musik pengiring yang cukup dikenal saat ini,” jelasnya.
Pembicara lainnya adalah Kepala Balai Pemajuan Kebudayaan Wilayah XVIII, Andi Syamsu Rijal, Praktisi Budaya dari Yayasan Tadulakota, Hapri Ika Poigi dan perwakilan dari Kanwil Hukum dan HAM Sulteng Herry Kresawan.
Yang cukup menarik dalam Culture Forum tersebut ditampilkan peragaan tiga karya tari Hasan Bahasyuan yang cukup legenda, namun kadang ditampilkan tidak sesuai aslinya, yaitu Peulu Cinde, Pontanu dan Pomonte. Ketika tari itu diperagakan Laila Bahasyuan, adik kandung dari sang maestro yang sangat memahami seluk beluk karya tari almarhum. Secara bersamaan tampil pula Sofyan Tadorante, seorang murid Hasan Bahasyuan yang menguasai kakulakrasi atau kakula rekayasan yang selama ini banyak dipakai.***
(JAMRIN AB)






