Kemudian yang kedua, tulangan pokok saluran terlihat menggunakan besi beton polos ukuran 16 SNI, sedangkan tulangan pembagi menggunakan besi beton polos ukuran 12 SNI.
Tak hanya itu, pengecoran lantai saluran juga terlihat tidak ada spasi antara tulangan dengan lantai kerja saluran, sehingga tulangan tersebut tidak terselimuti beton sebagaimana mestinya.
Selanjutnya, lantai saluran saat dilakukan pengukuran kembali terlihat lantai saluran itu kurang dari 10 centimeter. Padahal menurut salah satu tukang, untuk ketebalan lantai saluran itu harusnya 15 centimeter.
“Lantai kerjanya itu kalua tidak salah tebalnya 15 centimeter, dan lantai salurannya itu 10 atau 12 centimeter kalau tidak salah,” kata salah satu pekerja saat ditanya PosRakyat.com di lokasi proyek beberapa waktu lalu.
Kepala Satker PJN Wilayah II Sulteng, Rismono mengucapkan terimakasih atas informasi pekerjaan saluran di Pantai Taman Ria Palu yang diduga bermasalah itu. Ia mengaku akan menindak lanjuti.
“Terima kasih informasinya, segera ditindak lanjuti,” kata Rismono via WhatsApp, Rabu kemarin.
Menanggapi penggunaan besi beton pada saluran itu, salah seorang pemerhati konstruksi di kota Palu, Gunt mengatakan, bahwa besi beton ulir tentunya lebih kuat daripada besi beton polos.
“Jelas penggunaan besi yang berbeda itu sangat mempengaruhi kekuatan beton itu sendiri, besi ulir pasti lebih kuat menahan gaya geser sehingga kuat menahan beban,” terangnya.
Ia menambahkan, kalau sudah mencampur besi seperi itu, tentunya hal ini patut di pertanyakan, karena bisa saja ini merupakan bagian dari permainan oknum untuk mendapatkan untung lebih dari yang seharusnya.
“Pastinya kualitas bangunan saluran itu sudah bermasalah kalau kerjanya seperti itu. Dan bisa jadi ini upaya untuk mendapat untung lebih,” pungkasnya.
Hingga berita ini naik tayang, pihak Satker PJN Wilayah II Sulawesi Tengah belum memberikan penjelasannya terkait dugaan kecurangan pada pembangunan saluran di Pantai Taman Ria Palu tersebut.***
(ZF)






