PosRakyat – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyebut para penguasa saat ini ingin bertindak seperti zaman Orde Baru (Orba). Hal ini disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Relawan Ganjar-Mahfud di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Senin kemarin.
“Mestinya Ibu enggak boleh ngomong gitu tapi Ibu jengkel. Karena republik ini penuh pengorbanan tahu tidak. Kenapa sekarang kalian yang pada penguasa itu mau bertindak seperti waktu zaman Orde Baru?” ujar Megawati.
Baca Juga: KPK Terus Selidiki Dugaan Korupsi di Kementan
Baca Juga: LBH – Papeda: BPJN Sulteng Acuh Terhadap Hak Warga Desa Galumpang
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak Istana melalui Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana mengatakan, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.
Menurutnya, pernyataan Presiden ke-5 RI itu menunjukkan Indonesia adalah negara demokrasi, yaitu siapa pun boleh menyampaikan pendapatnya.
Indonesia itu negara demokrasi kata Ari. Semua siapa saja boleh berpendapat serta membuat penilaian. Dan itu cermin negara demokrasi.
Ari tidak ingin berkomentar lebih jauh. Menurutnya, penilaian itu merupakan hak Megawati.
“Itu domain Ibu Mega untuk partai politik,” kata Ari di Kantor Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Jakarta Pusat, Selasa (28/11/2023).
Diketahui, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengaku jengkel dengan sikap penguasa saat ini yang menurutnya ingin bertindak seperti penguasa di masa Orde Baru.
Pernyataan Megawati ini lantas disambut dengan sorak-sorai dari ribuan relawan pendukung Ganjar-Mahfud yang mengikuti pidato tersebut.
Banyak pula dari mereka yang berdiri dari kursi lalu meneriakkan kata “lawan” dengan berulang-ulang.
Sorak-sorai para relawan itu pun direspons Ganjar dengan meneriakkan seruan untuk memenangkan dirinya dan Mahfud MD dalam satu putaran.
“Benar tidak, benar tidak? Merdeka, merdeka, merdeka! Menang kita Ganjar-Mahfud satu putaran!” teriak Megawati.
Pernyataan emosional ini keluar dari mulut Megawati setelah ia menyinggung aksi-aksi intimidatif yang dilakukan sejumlah pihak menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
“Bayangin, mengintimidasi, dia itu siapa sih? Kalau dia berani, loh kenapa saya enggak boleh. Kamu mesti lihat perundangannya, kamu sebagai apa, bolehkah kamu menekan rakyat?” kata Megawati.
Terpisah, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Habiburokhman mengaku pihaknya menghormati orasi politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam acara Rakornas relawan Ganjar-Mahfud seluruh Pulau Jawa.
Secara umum, kata dia, orasi politik Megawati sebagai nasihat sebagai tokoh bangsa di Indonesia.
Pihaknya pun menangkap pesan dari Megawati bahwasanya kekuasaan tidak boleh bertindak sewenang-wenang.
“Yang kami tangkap inti pesan beliau adalah agar siapa pun yang sedang memegang kekuasaan tidak bertindak sewenang-wenang dan tidak memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan politik kelompoknya,” kata Habiburokhman dalam keterangannya, Selasa (28/11/2023).
Di sisi lain, ia menyindir banyaknya masyarakat yang kini mempertanyakan adanya kecurangan berupa mobilisasi pj kepala daerah yang tidak netral. Dia pun mencontohkan pj kepala daerah yang mendukung Ganjar-Mahfud.
“Belakangan ini banyak warga mempertanyakan soal pakta integritas pj bupati di Sorong, dugaan ketidaknetralan pj bupati Cilacap dengan program Kancing Merah, dugaan ketidaknetralan Bupati di Majalengka dan banyak lagi,” katanya.
Ia menjelaskan kekuasaan politik adalah amanah dari rakyat yang harus diraih dengan cara-cara yang terhormat.
“Jangan karena takut kehilangan kekuasaan atau takut tidak berkuasa lagi kita melakukan hal hal yang melanggar prinsip prinsip demokrasi,” pungkasnya.***



