Proyek Gedung SMK 1 Galang Lambat, Jaksa Panggil PPTK Dinas Pendidikan Sulteng

Redaksi
Tampak rehabilitasi gedung SMK 1 Galang, kabupaten Tolitoli yang dikerjkan sejak tahun 2023 belum rampung. Foto: RM
A-AA+A++

PosRakyat – Proyek rehabilitasi gedung SMK 1 Galang, kabupaten Tolitoli yang dikerjkan sejak tahun 2023 belum rampung hingga saat ini.

Diketahui, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Tolitoli juga telah melakukan pemanggilan kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pendidikan Provinsi Sulteng untuk dimintai keterangan mengenai keterlambatan pembangunan gedung tersebut.

Baca Juga: Muhidin Said Tanggapi Testimoni Mantan Kadis Bimatarung Sulteng: Kapan Ahmad Ali Urus Jalan?

Baca Juga: Normalisasi Sungai Desa Kayulompa Diduga Amburadul, Kades: Dinas CIKASDA Sulteng Janji Akan Benahi Kembali

Sementara itu, Irfan, selaku PPTK Dinas Pendidikan Provinsi Sulteng dikonfirmasi media ini Selasa, (6/8) mengaku, bahwa proyek pembangunan sejumlah gedung di SMK Galang yang di biayai APBD Provinsi sebesar Rp 2,3 miliar tahun anggaran 2023 itu memang mengalami keterlambatan.

Bahkan lanjut dia, pihak rekanan sudah diberikan sangsi berupa denda keterlambatan pekerjaan. “Iya pak , pekerjaannya sudah 7 bulan terlambat, tapi kami sudah berikan sangsi berupa denda perhari kepada perusahaan yang melaksanakan proyek,” kata Irfan.

Irfan menjelaskan, progres pekerjaan sampai kini sudah sekitar 90 persen, tinggal menyelesaikan pekerjaan pekerjaan finishing. Kemudian untuk anggaran yang telah dicairkan kepada pihak rekanan baru 50 persen.

“Pekerjaannya sudah sekitar 90 persen, tinggal pekerjaan finishing yang dikerja, dan anggarannya baru 50 persen kita bayarkan dari nilai total anggaran 2,3 miliyar,” beber Irfan.

Disinggung soal penyelidikan yang dilakukan oleh Kejari Tolitoli pihaknya membenarkan, bahkan Ia mengakui sudah dua kali di undang jaksa untuk dimintai keterangan.

“Saya sudah dua kali di undang jaksa untuk di minta keterangan, semuanya saya kepada yang kuasa pak,” ucapnya.

Sementara, pantauan medai ini di lapangan tampak seluruh item pekerjaan berupa rehabilitasi lima ruangan dan pembangunan sebuah toilet, dibiarkan mangkrak hingga akhirnya membuat pihak sekolah terpaksa mencari ruangan lain untuk digunakan bekerja.

“Ruangan yang direhab itu salah satunya adalah ruang guru, sekarang kami tidak bisa tempati lagi, karena dibiarkan begitu saja, terutama atap dan plafonnya belum selesai, ketika hujan bocor, ruangan penuh genangan,” tutur salah seorang guru.

Selain ruang guru, ada beberapa ruang lain yang tidak dapat digunakan lagi diantaranya, ruang praktek kejuruan, ruang kepala sekolah, dan sebuah mushollah serta toilet.

“Semua sarana itu, sebelumnya kami gunakan dengan baik, tapi setelah mengalami proses rehabilitasi, tidak diselesaikan, akhirnya tidak digunakan lagi. Tidak tau sampai kapan dibiarkan begitu,” tutur salah seorang guru lainnya kepada wartawan saat mengujungi sekolah tersebut.

Berdasakan data, terdapat 6 item pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab untuk diselesaikan oleh rekanan, diantara rehabilitasi ruang praktek, ruang guru, ruang kepala sekolah, toilet (jamban) beserta sanitasi, ruang ibadah (mushollah) serta bagun baru sebuah toilet lengkap dengan sanitasi.

Seluruh bangunan yang menjadi objek rehabilitasi tersebut, sebagian besar tidak dirampungkan pada bagian finising dinding atap maupun plafon.

(RM)