“Kesiapan daerah bukan semata fokus pada kuantitas atau banyaknya ketersediaan logistik yang akan di kirim ke IKN, tetapi kualitas atau mutu dari produktivitas para petani kita juga sangat penting. Sebab ini sangat menentukan dalam kompetisi pasar pada IKN nantinya,” ujar Habib Sadig.
Ia juga mengingatkan, bahwa semangat mewujudkan Sulteng menjadi daerah penyuplai logistik, tentu banyak pengelolaan sektor yang harus dilakukan Pemda seperti produksi buah, sayur, ternak dan lainnya ke IKN. Hal itu jangan sampai justru membuat pengelolaan persawahan petani tidak lagi menjadi perhatian utama Pemda, sehingga berdampak pada penurunan produktivitas padi para petani sebagai kebutuhan pokok konsumsi masyarakat, termasuk bagi daerah sendiri.
“Selama ini kita dikenal sebagai daerah swasembada pangan, khususnya beras. Jangan sampai semangat Pemda dalam meningkatkan produktivitas semua sektor yang dibutuhkan di Ibu Kota, justru perhatian terhadap petani sawah tidak lagi menjadi prioritas, yang akhirnya produksi beras dari petani kita menurun. Sehingga keinginan menyuplai beras ke Kaltim, tatapi disisi lain kebutuhan beras untuk konsumsi di daerah sendiri mengalami keterbatasan,” jelasnya.
Menurut Habib Sadig, kehadiran IKN di Kaltim yang notabene berdekatan dengan Provinsi Sulteng secara tidak langsung membuat daerah ini dilirik para investor baik skala nasional maupun internasional untuk berinvestasi. Hal ini tentunya mengharuskan Pemda mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk pembangunan infrastruktur.
Apalagi Sulteng memiliki potensi pertambangan mulai dari emas, nikel. Bahkan dikabarkan ada uranium.
Terkait hal ini, banyak yang harus diperhatikan Pemda dalam melakukan pengelolaan pertambangan, utamanya harus memperhatikan fungsi lingkungan yang berkelanjutan. Keinginan ‘mengemaskan’ Sulteng, jangan sampai lupa bahwa kita daerah swasembada pangan.
“Seperti bagaimana nantinya upaya lanjutan Pemerintah terhadap lokasi paska pengelolaan pertambangan. Mengingat, tambang ini adalah sumber daya yang akan habis. Olehnya, potensi unggulan pertanian daerah ini tetap harus diutamakan. Jangan sampai semangat mengelola tambang ini justru berdampak buruk pada lahan pertanian di sekitarnya,” jelas Habib.*****






