“Lawatan sejarah ini kami lakukan khusus kelas dua semua jurusan dan dibagi dalam empat hari karena jumlahnya cukup besar. Bagi kelas dua karena memiliki relevansi dengan mata pelajaran sejarah yang di dalamnya terdapat bab khusus tentang materi kolonial Belanda. Kami perkenalkan pada siswa itu secara konteks lapangan itu cocoknya di kota Donggala yang masih memiliki banyak peninggalan artefak kolonial,” ungkap guru penanggungjawab lawatan sejarah SMA Negeri 1 Palu, Syukri Nur Aisyah belum lama ini.
Menurutnya Syukri Nur Aisyah, khusus kelas 1 daerah kunjungan wisata sejarah yang dituju adalah Desa Watunonju di Kabupatn Sigi yang berkaitan dengan peradaban kuno sesuai kondisi kawasan tersebut. Hanya di Donggaka dikhusunya peninggalan Belanda yang masih banyak dapat disaksikan walaupun tidak terurus. Dari hasil kunjungan siswa selain melihat langsung suatu obyek sejarah, mereka mendapat penjelasan dari narasumber yang memahami kondisi obyek. Selanjutnya siswa sekembali ke sekolah akan membuat tugas laporan secara berkelompok untuk kemudian dipresentasikan terhadap hasil kunjungan. Materinya terbagi empat yaitu tentang struktur pemerintahan Hindia Belanda, perlawanan terhadap kolonian, perkebangan perekonomian zaman Belanda dan perkembangan pelabuhan.
Menurut Syukri Nur Aisyiah program lawatan sejarah di SMA Negeri 1 Palu akan dilakukan secara rutin mulai tahun ini hingga masa-masa mendatang yang diperuntukkan bagi kelas satu dan kelas dua. Kota tua Donggala akan menjadi kunjugan tetap yang tidak tergantikan mengingat potensi sejarah yang cukup banyak. (JAMRIN AB)






