Smelter Tembaga di KEK Segera Beroperasi, Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal Sulteng

oleh -
oleh
Komisaris PT. Wanhong Nonferrous Recycling Utilization, Andre Pahlevi (kemeja hitam). Foto: ZF

Kenapa memilih di KEK, karena tata ruangnya industri. Prosesnya tidak menunggu lama dan semua dimudahkan.

Foto: ZF.

Dia mengatakan, pihaknya membangun smelter di KEK, sebab potensi raw material yang akan disuplai dari beberapa kabupaten, bahkan dari luar Sulawesi Tengah (Sulteng) juga bisa masuk di KEK Palu.

“Dari Donggala, Tolitoli, Buol, Parigi, sampai ke Gorontalo untuk mineral tembaga yang bisa suplai ke sini,” ujarnya.

Lanjutnya, bahwa yang harus dipertegas itu, raw meterial yang masuk ke smelter mereka mempunyai izin yang sah dan bukan material ilegal.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi, Basir Tanase mengatakan selain di Kota Palu, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten Morut, belum ada skema tata ruang di daerah lain di Sulawesi Tengah.

“Untuk Sulawesi Tengah baru ini, selain Morowali. Membangun smelter harus di kawasan industri,” tutur Basir Tanase.

Basir juga menegaskan, jika ada pihak – pihak yang mengaku akan membangun smelter di daerah tertentu selain di Palu, Morowali, dan Morut, dapat dipastikan itu hoax karena tidak mempunyai izin tata ruang dari Dinas PU Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi.

“Ada aturan mainnya. Ini merupakan visi misi kak Cudy (Gubernur), karena insya Allah dua periode beliau,” katanya.

Basir menekankan, apapun resikonya akan mendukung penuh visi misi dan program Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura atau kerap disapa Cudy.

Sebab kata dia, Sulteng membutuhkan pemikiran – pemikiran seorang Cudy yang mempunyai lompatan kuantum dalam membangun daerah ini. ***

(ZF)