Tumpahan Oli Cemari Pesisir Teluk Tomori, Nelayan Terancam, Pemerintah Diminta Tegas!

Redaksi
Tumpahan oli kapal tambang di pesisir Teluk Tomori pada tahun 2022 yang disebut DLH sebagai limbah beracun B3. Foto: Ist
A-AA+A++

PosRakyat – Nelayan desa Tokonanaka sampai sekarang terus mengeluhkan tumpahan oli kapal tambang di pesisir Teluk Tomori sejak beberapa tahun silam. Permasalahan ini sampai sekarang belum dapat diselesaikan.

Dilansir dari beritamorut, dimana aktivitas kapal tambang yang melintas 10 kali setiap harinya di wilayah pesisir Teluk Tomori itu memberi dampak buruk bagi masyarakat sekitar terlebih bagi para nelayan tangkap ikan di desa Tokonanaka kecamatan Bungku Utara kabupaten Morut.

Informasi diperoleh, bahwa laporan terkait pencemaran laut ini telah disampaikan juga kepada Kementerian Lingkungan Hidup serta Balai Gakkum (Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Namun hingga saat ini, belum ada tindakan tegas yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini.

Baca Juga: Tiga Operator Alat Berat Tenggelam Akibat Longsor di Lokasi Pembuangan Limbah PT. IMIP, Pencarian Masih Berlanjut

Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid Tinjau Progres Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat

Berdasarkan peninjauan terhadap pencemaran tumpahan oli di perairan Tokonanaka atau di pesisir Teluk Tomori itu yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Morut pada 6 Agustus 2024 lalu menyatakan, bahwa tumpahan oli yang mencemari perairan tersebut merupakan limbah B3 yang berbahya dan beracun, dan hal ini bisa membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Ini butuh pembenahan serius karena oli tersebut berada di bibir Teluk Tomori, tepat di bawah pemukiman warga,” ujar Sigit, perwakilan dari DLH Morut.

Permasalahan ini justru dicurigai terjadi secara sengaja. Karena menurutnya kalau hanya masalah ketidaksengajaan mustahil bisa terus menerus terjadi begitu saja.

“Saya menganalisa bahwa pencemaran ini kemungkinan besar disengaja. Jika ini hanya kelalaian, tidak mungkin berulang kali terjadi,” ujarnya.

Akibat pencemaran yang terjadi, nelayan di Tokonanaka mengalami penurunan hasil tangkapan ikan secara drastis. Tumpahan oli yang mencemari perairan mengakibatkan banyak ikan mati atau berpindah ke perairan lain. Selain itu, lalu lintas kapal tambang yang padat menyebabkan wilayah tangkapan nelayan semakin terbatas.

“Sekarang, kami harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Padahal, sebelumnya hasil tangkapan di sekitar Teluk Tomori sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar perwakilan nelayan setempat.

Kondisi ini kata dia tidak hanya berdampak pada ekonomi nelayan tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka sumber penghidupan masyarakat pesisir Tokonanaka akan semakin terancam.

Masyarakat Tokonanaka berharap kepada pemerintah daerah dan pusat untuk segera mengatasi limbah beracun di Teluk Tomori. Dan mendesak DPRD Morut turun langsung melihat kondisi lapangan dan mencarikan solusi terkait permasalahan ini.

“Kami hanya ingin keadilan dan kepastian bahwa lingkungan kami tidak terus-menerus dicemari. Kami ingin tetap bisa melaut dan mencari nafkah tanpa harus khawatir dengan dampak limbah tambang,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Kasus pencemaran ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Jika tidak ada tindakan nyata dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin kondisi lingkungan di Teluk Tomori akan semakin memburuk, dan nelayan Tokonanaka akan semakin kehilangan mata pencahariannya.