Almubin Marwata mengatakan, banyaknya kapal yang melakukan bongkar-muat barang di kota Donggala dalam setahun terakhir, terjawab sudah terhadap berbagai isu yang cukup lama kalau seakan-akan pelabuhan Donggala tidak layak. Sebelumnya tersiar isu kalau tidak memenui syarat untuk pembongkaran barang dalam skala besar dan tidak siapnya tenaga kerja, kenyataannya semua berjalan lancar. Karena itu ke depan pelabuhan ini dipastikan bisa aktif kembali seperti tahun 1970-an selama ada kebijakan pemerintah mengarahkan aktivitas bongkar muat barang diprioritaskan di Donggala.
Bahkan pascabencana gempa bumi, Pelabuhan Donggala termasuk yang akan dibangun lagi dengan ketambahan sarana dermaga dan perangkat pendukung dengan penggunakan dana APBN. Menurut Almubin beberapa waktu lalu tim dari pusat telah turun melakukan peninjauan dan melakukan pertemuan dengan Bupati Donggala, Kasman Lassa, SH, MH terkait pembuatan dermaga di kawasan Anjungan Gonenggati Kabonga. Pembangunan dermaga tersebut proses tendernya telah selesai dan akan dikerjakan perusahaan dari Australia dengan biaya sekitar Rp 100 milyar lebih. Bagi masyarakat Donggala, pelabuhan merupakan sumber perekonomian vital sehingga mendapat sambutan yang baik sebab selama dua puluh tahun lebih dalam pengelolaan PT. PELINDO (Pelabuhan Indonesia), Pelabuhan Donggala cukup lama tidak ada aktivitas yang memadaimembuat banyak buruh yang menganggur. Keberadaan PELINDO lebih fokus pada Pelabuhan Pantoloan dengan mengabaikan Pelabuhan Donggala yang semula merupakan induk, kemudian hanya jadi Wilker dari batas Loli hingga Desa Surumana. Namun saat ini Depot Pertamina tidak lagi masuk Wilker Donggala karena dimasukkan ke wilayah Palu (Pantoloan).
JAMRIN ABUBAKAR






