Baca Juga: Mak Ganjar Ajak Emak – emak di Sulteng Hidup Sehat
Itu sebabnya, urai dia, hanya dengan pengetahuan, logika berpikir, dan kemampuan analisis yang baik saja yang akan mengantarkan seseorang sebagai wartawan yang bertanggung jawab. AI memang harus dipelajari karena itu keniscayaan. Dengan UKW inilah, para jurnalis akan tetap menjaga etika.
Semua itu justru membuktikan, tutur Sapto, betapa pentingnya UKW. Ia menuturkan agar jurnalis tidak perlu takut terhadap lahirnya aplikasi-aplikasi baru di dunia teknologi informasi.
“Untuk urusan UKW, teman-teman wartawan tidak perlu khawatir atau takut. Ini bukan ujian perguruan tinggi negeri (PTN) untuk jenjang pendidikan S1, S2, dan S3, tapi ini uji kompetensi. Bagi yang sudah menjalankan kerja-kerja jurnalistik, Insya-Allah bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh mentor,” kata Sapto.
Ia mengimbau, peserta UKW tidak usah takut dan tidak perlu minta tolong teman-temannya untuk mengerjakan tugas-tugas yang dijalani dan dibuatkan temannya sejak dari rumah. Sapto yakin, setiap terjadi tindak kecurangan, akan senantiasa ketahuan oleh para penguji.
Bagi yang sudah punya pengalaman kerja cukup lama sebagai jurnalis, maka ikut UKW bukanlah hal yang berat. Soal-soal terkait UKW (terdiri atas 11 pasal) memang sangat berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari wartawan.
Materi UKW tak jauh dari elaborasi KEJ. “Saya pesan untuk kawan-kawan. Pesan saya, KEJ bukan sekadar untuk dihafal, tetapi lebih dari itu. KEJ itu harus diamalkan,” urainya. Dia mengatakan, bagi jurnalis yang sudah mendapat kompetensi, semestinya akan tetap menjaga etika sebagai wartawan.
Dengan terlaksananya UKW ke-31 di Palu ini, sekarang tinggal tersisa di Jatim, Sulbar, dan Sulut. UKW ini diikuti 42 peserta yang terdiri atas 7 kelas, dengan rincian 6 untuk kategori muda dan 1 untuk madya.***






