Sementara itu, terkait dengan adanya pihak-pihak yang menuding permintaan maaf dan klarifikasi tersebut, Habib Sadig mengingatkan bahwa menilai hal-hal yang tidak terlihat bukan tugas manusia.
“Ini nasihat Imam Syafi’i, bahwa kita menghukumi hal-hal yang zahir, yang terlihat. Sedangkan yang tidak terlihat itu biarlah menjadi urusan Allah,” katanya.
Disaat yang sama, Habib Sadig menyesalkan adanya pihak-pihak di dalam kepengurusan Alkhairaat yang menolak ajakan tabayun dari pihak Gus Fuad.
“Kembali lagi, itu menunjukkan itikad baiknya. Kenapa ditolak? Saya sendiri, sebagai cicit Guru Tua dari pernikahan beliau dengan bangsawan Kaili, Ince Ami, siap bertemu dan melakukan tabayun dengan Gus Fuad,” jelasnya.
Habib Sadig juga mengaku tidak mempermasalahkan tempat pertemuan dan tabayun yang disyaratkan oleh pihak Gus Fuad, yakni Mabes TNI atau Mabes Polri.
“Terserah mau diadakan di mana, saya terbuka saja. Bagi saya, demi keutuhan NKRI, kita harus menerima permintaan maaf, klarifikasi, dan tabayun. Apapun itu, selama dilandasi itikad baik, kita terima. Urusan nasab, panggilan habib, dan seterusnya itu perkara belakangan. Begitu juga dengan penilaian apakah Guru Tua pantas atau tidak diberi gelar pahlawan. Di mata saya, siapapun bebas beropini, tetapi keputusan akhir ada pada institusi negara. Jadi, tidak usah didramatisir,” pungkasnya.






