“Saya hanya bisa ngolesi bumbu saja. Kalau ngirim itu baru saya. Pernah sekali antar ada 40 pesanan dalam sehari. Saya antar sendiri pakai motor. Ciloknya dimasukkan dalam kardus,” jelasnya.
Penghasilan dari bisnis kuliner ini memang tidak banyak. Andrianto mengaku pemasukannya dari bermain sepak bola antarkampung (tarkam) lebih banyak ketimbang keuntungan berjualan cilok.
“Saat ini masih ada lumayan undangan bermain tarkam. Pemasukannya memang lebih besar. Tapi, saya tetap menikmati bisnis kuliner ini. Semoga ke depan makin berkembang. Kebetulan sekarang cilok ini juga sudah dijual di Bali. Di sana ada teman yang bantu juga,” lanjutnya.
Penghasilan dari bisnis kuliner ini memang tidak banyak. Andrianto mengaku pemasukannya dari bermain sepak bola antarkampung (tarkam) lebih banyak ketimbang keuntungan berjualan cilok.
“Saat ini masih ada lumayan undangan bermain tarkam. Pemasukannya memang lebih besar. Tapi, saya tetap menikmati bisnis kuliner ini. Semoga ke depan makin berkembang. Kebetulan sekarang cilok ini juga sudah dijual di Bali. Di sana ada teman yang bantu juga,” lanjutnya.
Jajanan milik Andrianto ini punya rasa yang hampir mirip bakso. Hanya, dia mengemasnya dengan beragam bumbu. Mulai bumbu bakar, bawang, goreng, pedas dan yang lainnya.
Sumber: Bola.com






